MUNGKID – Biaya pengobatan tiga pekerja korban tanah longsor di proyek Jembatan Glagah di Desa Banjarnegoro Kecamatan Mertoyudan sudah ditanggung pelaksana proyek. Para pekerja yang sempat tertimbun tanah sudah diasuransikan. Sehingga semua pengobatan ditanggung. “Mereka ikut kami sejak lama, karena mereka spesialis jembatan,” kata Penanggung Jawab Proyek PT Permata Alam Sakti, Martomo kemarin (15/9). Martomo melanjutkan, selain masuk asuransi, mereka juga dibekali perlengkapan sesuai standar. “Mamanya pekerja, kadang tidak mau ribet. Padahal helm dan sepatu sudah kami bagikan,” paparnya. Pascabencana tanah longsor, proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan antarkecamatan itu sempat dihentikan sementara. Pekerjaan jembatan berhenti sejak Jumat siang (12/9). Peristiwa runtuhnya tanah dari tebing pondasi setinggi 10 meter terjadi di sisi selatan. Ia mengatakan, kejadian yang membuat tiga pekerjanya luka-luka murni musibah. Tebing di sebelah jembatan memiliki kontur yang labil. Menurutnya, strukturnya merupakan tumpukan sampah dan bekas-bekas pecahan material bangunan. Ia mengaku sudah memberikan penguat di sekitar tebing. “Akan kami perkuat lagi, supaya tidak terulang kembali,” katanya. Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Energi dan Sumber Daya Mineral (DPU ESDM) Kabupaten Magelang Heriyanto mengatakan, akan segera berkoordinasi dengan pelaksana proyek senilai Rp 2,7 miliar itu. “Kami akan koordinasikan supaya lebih hati-hati,” katanya. Seperti diketahui, tiga pekerja proyek jembatan di ruas Jalan Japunan-Banjarnegoro tertimbun longsor tebing di atas pondasi yang tengah dibangun. Ketiga pekerja itu Citro Parmin, 45, warga Boyolali; Jasman, 60, warga Purwodadi, dan Slamet, 35, warga Klaten. Dua pekerja yang disebut diawal mengalami luka serius di bagian kaki. Sementara Slamet hanya mengalami luka lecet. Proyek pembangunan dengan APBD Kabupaten Magelang 2014 ini dikerjakan PT Permata Alam Sakti. Proyek senilai Rp 2,7 miliar tersebut dimulai sejak 17 Juli lalu.(ady/hes)

Magelang