MAGELANG – Dugaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Magelang terbukti.Untuk ketiga kalinya, saksi kunci, yaitu Agus S tidak memenuhi panggilan. Ia yang dijadwalkan memberi kesaksian di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Magelang tidak datang pada persidangan kasus pelemparan bom molotov di rumah wartawan Jawa Pos Radar Jogja, Frietqi Suryawan.akhirnya, pada sidang hari Rabu (9/9), hanya memeriksa satu orang saksi. Yaitu, Wahyu K. “Padahal, surat pemanggilan sudah disanggupi saksi dan menandatanganinya. Hari ini (kemarin, Red) semestinya saksi yang bernama Agus hadir. Tetapi justru tidak datang tanpa alasan yang jelas,” jelas JPU Aksa Dian Agung, usai sidang, kemarin (9/9).
JPU menyerahkan kebijaksanaan pemanggilan paksa terhadap saksi kepada Majelis Hakim yang diketuai Irwan Effendi. “Saya rasa sudah ada sinyal dari Majelis Hakim tentang pemanggilan paksa terhadap yang bersangkutan,” tegas Aksa didampingi JPU Sandra Liliana Sari.Dalam persidangan, Saksi Wahyu tidak melihat secara langsung siapa pelaku.”Saat kejadian, saya diberitahu suami saya. Enggak keluar, cuma nengok dari dari dalam rumah saja. Pas mau lihat, apinya sudah padam. Tapi ada bau semacam bensin yang cukup menyengat,” jelas Wahyu di hadapan majelis hakim.
Wahyu mengaku, tidak mengetahui siapa yang melemparkan botol bensin yang sudah tersulut api tersebut. Terhadap para terdakwa pun, saksi mengaku sama sekali tidak mengenalnya. “Tidak ada yang saya kenal (dengan terdakwa, Red). Saya hanya tahu kejadiannya, ketika ada rekonstruksi dari polisi,” paparnya.Menurut istri Demang ini, peristiwa itu bisa saja meluluhlantahkan rumahnya, bila tidak ditangani dengan cepat. Sebab, sebagian besar konstruksi rumahnya menggunakan bahan yang mudah terbakar. “Masih ada kayu dan bawahnya ada karpet, gorden yang mudah terbakar. Seandainya enggak segera dipadamkan, pasti habis rumahnya. Karena apinya cepat banget,” imbuhnya.
Ditambahkan Wahyu, pada dasarnya, keluarganya sudah memaafkan perbuatan para terdakwa. Ia mengaku sempat dihampiri keluarga ketiga terdakwa malam hari di rumahnya, setelah para pelaku tertangkap. “Mereka minta maaf pada saya. Ada yang mengaku istrinya, calon istri, dan anak-anaknya. Saya diminta agar mencabut tuntutan ini, agar mereka bebas. Tapi saya jelaskan, ini bukan masalah saya dengan mereka. Karena kasusnya sudah ditangani kepolisian,” urainya.Ia berharap, kasus ini tetap menunjung tinggi prinsip keadilan. Terutama bagi keluarganya. Sebelum mengakhiri sidang, Ketua Majelis Hakim Irwan Effendi pun sempat menanyakan kondisi perempuan berjilbab ini yang tertatih-tatih membawa dua tongkat, lantaran satu kakinya terbalut perban. Hakim juga menanyakan kapan musibah itu menimpanya. “Kecelakaan. Kejadiannya dua hari setelah keluarga terdakwa menghampiri rumah saya,” katanya.Sidang akan dilanjutkan pekan depan. Agendanya, masih pemeriksaan para saksi.(ady)

Magelang