Alunan musik Jawa melantun lirih di TPS 10 Dusun Tempursari Desa Tempurejo Kecamatan Tempuran, kemarin (9/7). Beberapa petugas terlihat mengenakan pakaian surjan dan ikat kepala. Layaknya seorang budayawan, mereka melayani pemilih menggunakan bahasa Jawa. Di bagian depan tempat pemungutan suara (TPS), juga terpasang papan dengan tulisan berbahasa Jawa “Sugeng Rawuh”. Penggunaan pakaian adat Jawa tidak lain untuk menarik minat pemilih pada pilpres.”Pakaian surjan ini kami kenakan untuk menciptakan keunikan. Melalui cara ini diharapkan bisa menambah partisipasi pemilih untuk datang dan memberikan suara,” ungkap Ketua TPS 10 Narwan.
Menurut Narwan, desa tersebut setiap ada pagelaran pemilihan politik, TPS-nya ditampilkan suasana berbeda. Itu untuk menampilkan kesan nonformal. Sehingga tak ada jarak antara pemilih dan petugas TPS. “Dengan berpakaian yang tidak formal menjadikan tidak ada jarak antara pemilih dan petugas. Sebaliknya, menjadikan suasana akrab. Kami dari petugas bisa bertugas leluasa.Pemilihnya juga tak perlu canggung,” katanya.Ia meneruskan, demi tampil beda seperti itu, pihaknya menyisihkan sebagian anggaran untuk alokasi sewa tenda. Dari plafon anggaran sewa tenda sebesar Rp 750 ribu yang ada sekaligus menyewa pakaian tradisi Jawa. Selain itu, juga dimanfaatkan menyewa lokasi TPS di salah satu kios Ruko Adji Jaya di Jalan Magelang-Purworejo.Pengajar di salah satu SD di Desa Sidoagung ini mengungkapkan, pada pemilihan kepala daerah Oktober 2013, TPS itu mengenakan pakaian adat Jawa. Sementara pada Pileg 9 April 2014, para petugas mengenakan baju batik. “Dari upaya ini, ada dampak positifnya. Yakni pemilihnya jadi antusias untuk datang ke TPS,” katanya.
Melalui penampilan tradisional, ia menargetkan peningkatan partisipasi pemilih sebesar 20 persen. Jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di TPS tersebut sebanyak434 orang. Di Desa Tempurejo ada 13 TPS. ”Kalau pada pemilihan calon anggota legislatif lalu, tingkat partisipasi pemilihnya 60 persen. Kami harapkan bisa mencapai 80 persen,” katanya.Dari hasil penghitungan suara tingkat partisipasi pemilihnya sebesar 77 persen. Dari DPT 434 orang, yang hadir sebanyak 344 orang. Adapun hasil akhir penghitungan suara di TPS tersebut pasangan Prabowo-Hatta memperoleh 173 suara, pasangan Jokowi-JK memperoleh dukungan 160 suara. “Sementara sisa surat suara mengalami rusak,” kata Narwan. Selain di Kecamatan Tempuran, TPS unik juga ada di kecamatan lain di Kabupaten Magelang. Seperti TPS dengan nuansa resepsi pernikahan jawa dari TPS 17 Dusun Sidoharjo Desa Tamanagung Kecamatan Muntilan. Para petugas mendesain TPS dengan konsep resepsi pernikahan Jawa. Petugas KPPS mendekorasi tenda sebagai TPS ini dengan dekorasi pernikahan.
Berbagai macam dekorasi janur kuning menghiasi TPS ini. Di pintu masuk, dihias berbagai macam ubo rampe. Seperti pisang raja, kelapa muda, dan tanaman bunga-bunga. Sementara petugas KPPS di Desa Payaman Kecamatan Secang rela mengubah bangunan TPA menjadi TPS bernuansa pesantren. Petugas menyulap TPS menjadi layaknya pondok pesantren. Di ruangan TPS berukuran 10 x 5 meter itu, juga dilantunkan tilawah ayat suci Al Quran. Pemilih diharuskan melepas alas kaki layaknya memasuki masjid.(*/hes)

Magelang