Suara lafal Al Quran terdengar sahut menyahut di antara para santri sepuh. Ini menambah khusus suasana Masjid Agung Payaman. Ratusan santri bersama-sama membaca Al Quran secara seksama di setiap sudut masjid.Membaca kitab Illahi bersama-sama merupakan kegiatan para santri sepuh mengisi waktu puasa mereka. Pada Ramadan tahun ini, setidaknya 400 santri sepuh dari berbagai daerah yang menginap selama bulan suci ini. Tentu saja satu tujuan, beribadah dan menimba ilmu agama. Salah satu santri, Ahmad Kastolani mengaku sudah mondok di tempat tersebut sebanyak 7 kali Ramadan. Meski di rumah ia memiliki keluarga besar dengan enam putra dan 18 cucu, Kastolani mengaku lebih nyaman tinggal di pondok yang didominasi orang-orang yang lanjut usia tersebut.
“Saya di sini niat untuk ibadah. Mencari ilmu untuk bekal ke akhirat, karena sudah tua,” ungkap Kastolani yang berumur 80 tahun itu kemarin (4/7).Senada dengan Kastolani, Ramidi, 50, santri asal Jogjakarta mengaku lebih kerasan tinggal di pondok sepuh dibanding di rumah sendiri. Apalagi, para santri bisa mengikuti ibadah bersama santri lain.”Di sini saya bisa belajar Al Quran dan hadist. Juga bisa mendengarkan pengajian rutin. Ibadahnya jelas dan tidak ngalamun,” papar Ramidi.Selain membaca Al Quran bersama, masih banyak kegiatan lain yang bisa diikuti mereka para santri sepuh. Di antarannya, pengajian sebelum Dzuhur, mujahadah, pemberian ceramah tentang masalah fiqh, tasawuf, siroh atau sejarah perjuangan Islam.
Salah satu pengasuh pondok pesantren sepuh Masjid Agung Payaman KH Muh Dibyan Abdul Majid mengungkapkan, jumlah santri sepuh terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pesatren model seperti ini, yaitu lebih dikhususkan mereka yang sudah berumur lanjut berlangsung sejak 1985. Di mana, awal mula adanya pondok sepuh hanya berupa pengajian setiap Senin. “Sampai kini, terdapat berbagai kegiatan yang bisa diikuti santri,” papar Muh Dibyan.Para santri yang tahun ini menginap di pondok sepuh selama Ramadan, antara lain berasal dari Wonosobo, Sukorejo, Kutoarjo, Jogjakarta, Temanggung, Serang Banten, dan beberapa daerah lainnya. Mereka rata- rata berusia 60 – 80 tahun.
“Selama berada di sini, mereka mandiri. Terkadang ada kendala untuk mengurusi lansia, apalagi yang sakit. Namun sampai saat ini semua bisa berjalanlancar karena ada yang mendampingi,” imbuh Muh Dibyan.Seperti tahun lalu, para santri akan menimba ilmu di tempat tersebut, mulai awal Ramadhan hingga tanggal 25 Ramadan. Terkadang, ada juga santri sepuh yang menginap hingga beberapa hari sebelum Lebaran tiba. “Biasanya santri tinggal dari awal Ramadan sampai tanggal 20-an. Ada juga yang sampai tanggal 25 atau 28,” katanya.Pesantren ini diasuh empat kiai. Yaitu, KH Asrori Al Havid, KH Mafatikhul Huda, Kyai Ahmad Fauzan, dan KH Muhammad Tibyan Abdul Majid. Mereka merupakan generasi ke-4 dari KH Anwari Sirajd Bin Abdurrosyid atau Mbah Sirajd Payaman. Mbah Sirajd merupakan pendiri Masjid Agung Payaman dan pondon pesantren (ponpes) sepuh pada 1937.Kegiatan pondok pesantren sepuh yang khusus diselenggarakan pada Ramadan, dimulai sejak 1985. Awal mulanya digagas Kyai Ahmad Fauzan. Semula kegiatan yang ada hanya berupa pengajian tiap Senin. Kemudian pada 1990, jamaah semakin banyak hingga sekarang.(*/hes)

Magelang