Ratusan warga bersemangat mengikuti acara Padusan Bajong Banyu. Acara ini lain dari kebiasan umumnya, di mana dikemas dengan kesenian tari. Secara bersama-sama, warga menyiramkan air dari satu warga ke warga lainya. Melalui air kemasan dan gayung, mereka saling membasahi diri di lapangan dusun tersebut.Prosesi Padusan Bajong Banyu diawali dari warga yang berniat menjalani ibadah di bulan suci Ramadan. Dipimpin sesepuh desa, masyarakat bersama menuju sumber mata air Tok Dawung, sekitar 500 meter dari Lapangan Dusun. Di Tok Dawung itu, warga mengungkapkan rasa syukur atas sumber air yang ada melalui tari kesenian. Kemudian air dimasukan ke dalam kendi sembari berdoa. “Air merupakan simbol mensucikan diri menghadapi bulan Ramadan. Dengan keadaan suci, semoga warga dengan tenang menjalankan Puasa Ramadan,” ucap Sesepuh Desa Purwo Sumarto sebelum mengambil air di Tok Dawung kemarin (27/6).
Kemudian air dibawa menuju ke tengah dusun. Sampai di perbatasan dusun, rombongan air disambut pemuda sebaga cucuk lampah peserta kirab. Sesampai lapangan dusun kembali, rombongan air disambut Tarian Pawitra Budaya. “Tarian Pawitra Budaya merupakan simbol kegembiraan dan rasa syukur atas manfaat air selama ini. Air merupakan simbol pembersihan jiwa raga masyarakat,” kata Ketua Penyelenggara Acara Gepeng Nugroho.Setelah didoakan sesepuh dan pemuka agama, acara Puncak Bajong Bayu tiba. Warga saling perang air. Semua ikut, mulai anak-anak hingga orangtua. Mereka larut dalam perang air sebagai bentuk kebersamaan itu.Secara filosofi, ungkap Gepeng, menyambut Ramadan umat Islam harus suci. Baik hati, pikiran, dan perbuatan. Sehingga ibadah yang dijalankan saat Ramadan bisa optimal. Dengan perang air tersebut, kebersamaan warga menyambut bulan penuh ampunan ini juga diharapkan bisa menumbuhkan kebersamaan antarwarga. “Apalagi jelang pilpres nanti, para elit politik tengah bersitegang. Dengan perang air ini, warga tidak terhanyut konflik yang ada. Ini bentuk mensucikan demokrasi agar bersih dari hal-hal negatif,” papar pria yang aktif di bidang seni ini.
Kadus Dawung I Wisik menambahkan, Tok Dawung merupakan sumber mata air sejak zaman nenek moyang. Setiap musim kemarau, air tak berhenti mengalir. “Kami berharap acara ini tidak berhenti dan berjalan berkelanjutan. Karena mata air ini banyak dimanfaatkan warga setempat,” kata Wisik.(*/hes)

Magelang