Seorang petani sedang memasukan sayuran kubis ke dalam karung berwarna putih. Satu persatu, karung dijejali kubis segar hasil dari panen. Setelah penuh, karung diangkat dan dimasukan ke colt diesel yang tengah menunggu.Petani muda ini merupakan salah satu petani di Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak. Ia adalah salah satu dari 250 pemuda desa setempat yang aktif dalam Kelompok P4S ”Tani Merbabu”. Memang, kelompok tani itu memprioritaskan pemuda dalam mengembangkan usaha pertanian di desanya. Langkah yang dilakukan adalah merubah “gaya hidup” pemuda desa setempat.”Pemuda-pemuda desa kami sering melakukan hal-hal negatif. Mabok-mabokan hal biasa. Ketika tidak ada kegiatan, para pemuda lebih memilih mabok dan condong ke perkelahian,” kata Suratman, warga desa setempat, Jumat (20/6).
Menurut Suratman, para pemuda cenderung melakukan hal-hal negatif, bukan tanpa alasan. Saat tidak ada aktivitas, para pemuda sering kelayapan ke desa-desa lain. Tak jarang mereka hanya ikut melihat tontonan yang ada.Sekarang, kondisi itu perlahan hilang. Pria 40 tahun ini menjadi saksi adanya perubahan pola pikir pemuda setempat. Ia bersama pemuda lain aktif di diP4S “Tani Merbabu”. Suatu kelompok tani yang aktif menggerakan pemuda agar berkembang.”P4S sengaja merekrut para pemuda. Karena pemuda mampu mengurusi organisasi dan bisa diajak bekerja. Mereka terus didorong dengan pelatihan terkait pertanian,” imbuhnya.Pria yang menjabat Ketua Divisi Pengorganisasian P4S ”Tani Merbabu” ini mengaku, dengan kegiatan pertanian, pemuda tidak ada waktu untuk duduk-duduk santai. Mereka disibukkan dengan panen hasil pertanian, pelatihan, dan lainnya.
Ia mengungkapkan, organisasi P4S ”Tani Merbabu” dibentuk pada Agustus 2010. Hingga kini mengalami perkembangan. Kini, sudah beranggotakan 568 petani dari 27 kelompok tani. Anggotanya yang mencapai 568 orang tersebar di dua daerah dan tiga kecamatan.Mereka berasal dari Kecamatan Ngablak dan Pakis di Kabupaten Magelang. Serta dari Getasan Kabupaten Semarang. Pertemuan kelompok dilakukan setiap Senin Wage dan setiap kelompok mengirimkan utusan dua orang.”Lembaga ini dipandu 12 orang ahli pertanian. Setiap tahun, petani mendapat pelatihan dari beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia,” ungkapnya.Dari hasil kerja para pemuda, para petani di bawah naungan P4S menyetorkan hasil pertanian ke sejumlah tempat. Di antaranya, supermarket dan hotel, melalui supplier. Mereka juga memasok kebutuhan sayuran di sejumlah pasar lokal.
Berkat kegiatan P4S, pertanian lebih maju. Tak jarang, kelompok tani ini menjadi jujugan studi banding. Belum lama ini, sempat mendapat kunjungan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Intan Jaya Papua. Mereka melakukan orientasi ketahanan pangan dan penyuluhan.”Melalui organisasi ini, kami mengurusi 72 komoditas pertanian. Dari jumlah itu, yang bisa dipasarkan ada 32 komoditas,” katanya.(*/hes)

Magelang