*Lanjutan Sidang Gugatan Perdata
MAGELANG – Sidang gugatan perdata Herry Chandra alias Tjong Sien Hoo dan Sri Sulistyowati atas dugaan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) oleh Pemkot Magelang di PN Magelang digelar kemarin (28/4). Dalam persidangan, diketahui adanya perbedaan penamaan kios.
Koordinator Perwakilan Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang (P3RM) Nasirudin Hadi ketika persidangan mengaku tidak tahu adanya Kios Berdikari atau Kios Mandiri dan Los Inpres di Pasar Rejowinangun sebelum kebakaran. Namun setelah dicecar oleh kuasa hukum penggugat Saji SH dan Ketua Majelis Pengadilan Negeri (PN) Magelang Retno Purwandari Yulistyowati SH, pedagang yang tinggal di Kelurahan Wates tersebut akhirnya mengaku adanya penamaan kios. Dimana penamaan seperti itu didasarkan kapan kios dibangun dan sumber dananya.
“Kalau Kios Utama saya tidak tahu. Tetapi kalau Kios Mandiri atau Berdikari saya tahu. Itu kios yang dibangun oleh pak Darmono (Direktur CV Sumber Rejeki). Sedang Los Inpres adalah los yang dibelakang Kios PJKA,” kata Nasirudin menjawab pertanyaan Ketua Majelis PN Magelang Retno Purwandari dalam sidang gugatan perdata kemarin.
Pada awalnya, Nasirudin berusaha menutupi adanya perbedaan penamaan kios di Pasar Rejowinangun sebelum kebakaran pada 26 Juni 2008. Bahkan dia juga mengaku tidak tahu dengan nomor kios Toko Mas Gatotkoco milik penggugat. Padahal dia mengaku soal existing (penempatan) pedagang yang berjalan sekarang adalah konsepnya.
“Saya tidak tahu nama kios Toko Mas Gatotkoco dan nomornya. Yang jelas, dibatasi oleh lorong posisi sebelah barat dari Toko Mas Gatotkoco masih ada Toko Mas Mustika, Gareng dan Pak Tani. Toko Mas Mustika dan Gareng sejajar,” tuturnya.
Nasirudin menuturkan bahwa pendirian P3RM adalah imbauan dari Pemkot Magelang melalui Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) pascakebakaran. Semula organisasi tersebut diikuti oleh 29 pedagang.
“Soal existing, itu adalah usulan saya. Dimana dibagi mulai dari tengah atau jalan masuk. Berderet empat-empat. Pedagang rata-rata sudah oke. Kemudian kami usulkan ke DPP dan disetujui. Yang kemudian oleh DPP disampaikan ke investor (PT Putra Wahid Wahid-PT Kuntjup),” jelasnya.
Dikemukakan bahwa keberadaan kios milik Mustika, Gareng dan Pak Tani sejak tahun 1987. Kios tersebut dibangun oleh Darmono menggunakan tanah milik Pemkot Magelang yang berada di pintu masuk menuju lantai dua.
“Mereka kemudian beli kepada pak Darmono. Tetapi mereka membayar retribusi kok,” ujarnya.
Sengketa perdata tersebut bermula dari diberikannya hak untuk menempati kios nomor 1 kepada Toko Mas Mustika oleh Pemkot Magelang. Pihak Gatotkoco merasa lebih berhak menempati kios tersebut dibanding Mustika, karena punya bukti kuat kepemilikan kios nomor 1 sebelum terjadi kebakaran 26 Juni 2008 lalu. Diantaranya adanya Fotokopi SK Wali Kota Magelang Nomor 503/39/02/1988 tentang izin mendirikan tempat usaha Toko Mas Gatotkoco. Juga bukti pembayaran PBB, NPWP, TDP, retribusi pasar dan lainnya yang menyebutkan Herry Chandra dan Sri Sulistyowati adalah pemilik kios Nomor 1 dan 2 Jalan Mataram. Sedang Mustika dianggap hanya menempati kios tambahan yang didirikan di atas taman pasar.
Sebelum mengajukan saksi Nasirudin, Pemkot Magelang mengajukan saksi Isyono dan Sumirah. Keduanya merupakan staf UPT Pasar Rejowinangun. Sedang penggugat mengajukan dari kalangan pedagang diantaranyaIng Siang, Mulyono Efendi dan Ong Siu Ming. Sidang akan dilanjutkan Rabu (30/4) besok. (dem/ila)

Magelang