MAGELANG – Peringatan Hari Jadi ke-1.108 Kota Magelang berbeda dengan sebelumnya. Momen itu terasa bermakna dengan adanya pentas teater. Apalagi ini jarang ada pentas kesenian seperti itu.
Para teatrawan yang tergabung dalam Studiklub Teater Bandung (STB) tampil dalam karya berjudul “Pagi Bening (Suatu Pagi yang Cerah)” di Museum Oei Hong Djien (OHD), pekan lalu.
Satu hal yang memukau, tampilannya Mohamad Sunjaya. Seniman ini sudah berusia 77 tahun. Meski begitu, ia tampil prima dan mengagumkan. Termasuk saat ia memainkan naskah “Pagi Bening” yang disutradarai IGN Arya Sanjaya.
Pria kelahiran Bandung, 28 Agustus 1937 ini bermain sebagai Don Gonzalo dan beradu akting dengan Sugiyati SA sebagai Donna Laura. Juga ada Kemal Ferdiansyah sebagai Juanito dan Tiara Anjani sebagai Petra.
Sunjaya berhasil memerankan Gonzalo yang kaku, angkuh, dan pemarah. Ia terlibat pertengkaran kecil dengan Donna Laura, bangsawan perempuan di sebuah taman di Kota Madrid, Spanyol.
Berkat kefasihan Donna berceloteh, pertengkaran itu berubah menjadi percakapan intim yang mengungkapkan kenangan indah semasa muda mereka.
Kedua aktor kawakan ini berhasil membawakan dialog terus-menerus tanpa membuat penonton bosan.
“Hebat,kalau bukan aktor berpengalaman, susah dialog serumit itu jadi kekuatan pentas,” ungkap Agung, penonton yang datang dari Mertoyudan.
Kehebatan Sunjaya maupun Sugiyati diakui juga oleh IGN Arya Sanjaya, sang sutradara. Ia mengatakan, persiapan pentas satu babak hanya setengah bulan. Karena para pemeran sudah memahami naskah terjemahan tersebut, sehingga tak kesulitan saat bermain.
“Studiklub Teater Bandung (STB) sering mementaskan naskah terjemahan karya Serafin Alvarez Quintero dan Joaquin Alvarez Quintero. Terakhir, tahun lalu kami bawakan di Sarawak Malaysia,” ungkap Sanjaya, usai pentas.
Sanjaya mengaku, naskah pentas tersebut sederhana dan hanya butuh durasi pementasan sekitar setengah jam. Namun, dari cerita sederhana itu, muncul pesan dan kesan yang mendalam bagi pemain dan penonton.
“Setiap pementasan, STB lebih mengarah ke seni membawakan, bukan seni pernyataan. Termasuk pentas ini, kami membawakan cerita. Kalau ditanya pesan atau isi dari naskah ini, kami kembalikan ke penghayatan penonton saja,” katanya.
Lepas dari interpretasi penonton, pementasan dengan MC Annisa Hertami ini cukup berhasil. Antusias penonton cukup besar. Lebih dari 100 penikmat seni hadir. Apresiasi tinggi juga disampaikan Pemilik Museum OHD, dr Oei Hong Djien.
“Saya gembira adanya pentas teater. Sebab, saya membuat museum ini juga dalam rangka pengintegrasian antara seni rupa, musik, sastra, dan drama. Ke depan, saya harap ada pementasan lain lagi,” kata pria yang baru berulang tahun ke-75 itu.
Ketua panitia pementasan, Yefta Tandiyo mengatakan, pementasan teater selain memeriahkan HUT Kota Magelang, juga memperingati ulang tahun dr Oei Hong Djien ke-75 pada 5 April lalu. Menurut Yefta, Pagi Bening merupakan komedi-mulia (high-comedy) yang ditulis pada 1905 dengan judul “Manana de Sol”. Naskah ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Lucretia Xavier Floyd pada 1914 dengan judul “A Sunny Morning”. Kemudian, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sapardi Djoko Darmono dengan judul “Suatu Pagi yang Cerah” atau “Pagi Bening”.
“Sapardi mementaskan naskah ini pada 1964 di Solo. Lalu, Studioklub Teater Bandung (STB) mementaskan pada 1971. Nah, sekarang STB kembali mementaskan naskah ini di Kota Magelang dengan pemeran yang hampir semuanya sama,” katanya.
Menurut Yefta, pentas teater STB bekerja sama dengan Komunitas Gandrung Seni (KGS) Magelang itu sangat penting. Karena, Kota Magelang jarang digelar pentas teater, baik oleh seniman lokal maupun luar Magelang.(dem/hes)

Magelang