MUNGKID – Kekompakan pemuda Masjid Baitul Rohim di Dusun Karang Harjan, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan patut ditiru. Tidak hanya sekedar soal keagamaan, tetapi juga soal politik.
Para pemuda di dusun tersebut sepakat menolak bentuk politik uang menjelang pencoblosan pada 9 April 2014.
Mereka melakukan aksi tolak money politic dengan menempelkan spanduk hingga rontek. Tak tanggung-tanggung, spanduk itu ditempelkandi jalan dusun menuju lokasi TPS setempat. Beberapa spanduk di antaranya bertuliskan, “Jual Beli Suara Haram Hukumnya”, “Memilih Karena Rupiah Merusak Moral bangsa”, “Apapun Alasannya Jual Beli Suara Haram Hukumnya”, dan lainnya.
Ketua Takmir Masjid Baitul Rohim, Avifudin menyatakan, menjelang hari pencoblosan, pemuda setempat kompak menempelkan berbagai spanduk.
“Aksi ini sebagai bentuk keprihatinan kami atas perilaku sebagian caleg yang melakukan aksi money politic sebelum pemilu,” kata Avifudin, kemarin (7/4).
Atas keprihatinan soal politik uang itu, pemuda setempat sepakat menolak. Caranya dengan menempelkan spanduk tersebut. Bahkan, pemuda berani mengatakan, politik uang adalah haram.
Langkah ini dilakukan agar masyarakat memahami. Pemasangan yang dilakukan juga dipilih pada tempat strategis, terutama jalan menuju tempat pemungutan suara (TPS).
Salah satu warga, Safitri mengaku senang dengan pemasangan spanduk tolak money politic itu. Ia mengaku pemasangan spanduk karena ada kesepakatan dengan warga setempat.
“Pemasangan dilakukan atas kesepakatan warga,” katanya.
Di Dusun Karang Harjan ada 870 pemilih dan terdapat 2 TPS. Dengan aksi tersebut, para caleg bisa belajar. Tidak semua suara rakyat bisa dibeli dengan uang.(ady/hes)

Magelang