MAGELANG – Puluhan siswa SD Muhammadiyah 1 Alternatif (Mutual) Kota Magelang, berjajar di sepanjang halaman depan sekolah, Sabtu pagi (5/4). Sembari membawa poster bertuliskan, “Aku Suka KPK”; “Menyontek =Korupsi”, “Anak SD Jujur, Pejabat?” dan lainnya, mereka menyambut kedatangan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad.
Selain membawa poster, kedatangan Abraham Samad disambut marching band dari anak-anak TK Aisyiah, Kota Magelang.
Kepala Sekolah SD Mutual, Salamun mengatakan, salah satu mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), ada materi tentang lembaga negara. Salah satunya KPK.
“Kami ingin kenalkan, ini lho Abraham Samad, Ketua KPK RI. Cara ini merupakan upaya siswa terdidik mencegah tindak korupsi,” imbuh Salamun.
Ia ingin mengajarkan pendidikan antikorupsi sejak dini pada anak-anak. Korupsi, tegas Salamun, merupakan perbuatan kotor yang merugikan orang lain. Selain itu, merupakan perbuatan yang tidak patut dicontoh siapapun.
Sementara itu, Komisi Pemberatan Korupsi (KPK) mengendus sejumlah transaksi mencurigakan pada rekening para calon anggota legislatif (caleg) incumbent. Saat ini, KPK melakukan investigasi dan pendalaman soal ini. Menurut Abraham Samad, pendalaman dilakukan pada sejumlah caleg yang ditengarai memiliki transaksi mencurigakan. Hingga kini, KPK belum mengetahui secara pasti nilai transaksi mencurigakan tersebut.
Ia juga tidak bersedia menyebutkan jumlah caleg dengan transaksi mencurigakan tersebut.
“Kami terus mendalami dan masih melakukan investigasi. Termasuk, nilai transaksinya masih dalam pendalaman. Jumlah calegnya juga terus didalami,” ungkap Abraham, sebelum menjadi pembicara di acara seminar “Masa Depan Pemberantasan Korupsi Perspektif Hukum dan Politik”, di Universitas Muhamadiyah Magelang (UMM).
Abraham menambahkan, KPK terus menyelidiki untuk memotret dan mengawasi kapasitas para caleg. Menurutnya, hampir 90 persen caleg incumbent mencalonkan lagi pada Pileg 2014.
“Dengan pemetaan dan observasi yang dilakukan, KPK ingin membantu rakyat agar memilih caleg yang tepat. Kami ingin melihat sejauh mana kapasitas caleg itu. Hampir 90 persen caleg yang ada di Senayan kembali mencalonkan diri,” imbuh Abraham.
KPK telah memiliki program pengawasan Pemilu 2014. Melalui program ini, KPK memberikan pelajaran pada masyarakat untuk memilih caleg yang berintegritas. Abraham meminta masyarakat melihat dengan jelas kelakuan para calegnya.
Ia juga mengajak masyarakat peka dengan integritas caleg. Secara kasat mata, bisa diketahui pengalaman dan historisnya.
Diungkapkan Abraham, KPK berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara Rp 1,193 triliun dari aspek penindakan pada 2013. Penindakan yang dilakukan KPK, antara lain menyita sejumlah aset koruptor dan melelangnya. Jumlah itu lebih sedikit dari yang berhasil diselamatkan KPK dari aspek pencegahan yang mencapai Rp 2,284 triliun.
Saat ini, kasus korupsi di Indonesia mengalami evolusi dan metamorfosa. Menurutnya, zaman dulu yang melakukan korupsi adalah mereka yang sudah berusia 40 tahun ke atas.
“Sekarang, para pelaku korupsi dari kalangan generasi muda. Jadi korupsi telah mengalami evolusi. Contohnya, terpidana kasus korupsi Hambalang Nazarudin berusia relatif muda, yakni 32 tahun. Seorang tersangka korupsi dari pegawai pajak yang ditangkap KPK malah berusia lebih muda lagi, 29 tahun,” jelasnya.
Korupsi, lanjut Abraham, juga mengalami metamorfosa. Jika dulu korupsi dilakukan dengan sederhana dan tradisional, seperti pungli pada pembuatan KTP dan SIM. Sekarang, korupsi berubah wujud jadi kejahatan yang canggih. Ini dilakukan orang-orang berpendidikan tinggi dan sulit terdeteksi hukum yang biasa. Seperti tindak pidana pencucian uang alias TPPU.(dem/hes)

Magelang