World Health Organization (WHO) mencatat bahwa sekitar 4,6 persen laki-laki dewasa di dunia mengalami depresi.
Meski angkanya secara statistik lebih rendah dibanding perempuan, banyak kasus pada laki-laki tidak terdeteksi karena mereka cenderung tidak mengungkapkan kondisi emosionalnya secara terbuka.
Dalam keseharian, laki-laki kerap dipersepsikan sebagai pribadi yang kuat dan mandiri.
Ketika menghadapi tekanan emosional, diam sering menjadi pilihan.
Sikap ini kerap disalahartikan sebagai ketidakpedulian, padahal secara psikologis diam bisa menjadi bentuk pengelolaan emosi yang dipelajari sejak lama, bukan tanda absennya perasaan.
Penjelasan ini sejalan dengan kajian ilmiah berjudul Engendered Expressions of Anxiety: Men’s Emotional Communications With Women and Other Men (2021).
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa norma maskulinitas membuat laki-laki lebih memilih mengelola kecemasan dan tekanan emosional secara internal, baik saat berinteraksi dengan perempuan maupun sesama laki-laki.
Bercerita dianggap berisiko karena dapat membuka kerentanan yang bertentangan dengan citra maskulin yang selama ini dilekatkan pada mereka.
Sosialisasi emosi sejak kecil turut memperkuat pola tersebut. Banyak laki-laki tumbuh dengan pesan bahwa menunjukkan perasaan berarti lemah.
Kalimat seperti “jangan cengeng” atau “laki-laki harus kuat” membentuk jarak antara diri mereka dan ekspresi emosi.
Akibatnya, kemampuan mengenali dan mengungkapkan perasaan tidak berkembang secara optimal.
Dampak dari pola ini dijelaskan lebih lanjut dalam jurnal Internalizing Symptoms in Men: The Role of Masculine Norms, Alexithymia, and Emotion Regulation (2025).
Penelitian ini mengungkap bahwa norma maskulinitas berhubungan erat dengan alexithymia, yakni kesulitan mengenali dan mendeskripsikan emosi. Kondisi tersebut bukan bawaan biologis, melainkan hasil pembiasaan sosial yang mendorong laki-laki untuk menekan perasaan mereka.
Ketika emosi terus dipendam, dampaknya tidak berhenti pada ranah psikologis individu.
Stres berkepanjangan, kelelahan mental, hingga kesulitan membangun relasi yang intim dan sehat kerap muncul sebagai konsekuensi.
Banyak laki-laki akhirnya menyalurkan emosinya melalui tindakan, bekerja berlebihan, menarik diri, atau melampiaskan pada aktivitas tertentu, alih-alih melalui cerita.
Memahami alasan psikologis di balik sulitnya laki-laki bercerita membantu kita melihat bahwa diam bukanlah penolakan untuk dipahami.
Yang dibutuhkan bukan paksaan agar mereka selalu verbal, melainkan ruang aman dan perubahan cara pandang sosial. Dengan begitu, bercerita dapat dilihat sebagai keterampilan emosional, bukan ancaman terhadap identitas maskulin.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.