Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Komika Harus Lebih Interaktif saat Stand Up Comedy

Winda Atika Ira Puspita • Sabtu, 3 Februari 2024 | 14:30 WIB

 

 

PERCAYA DIRI: Komika Jogja Zainal Arifin saat open mic di berbagai acara.
PERCAYA DIRI: Komika Jogja Zainal Arifin saat open mic di berbagai acara.

RADAR JOGJA - Sejak 1970 hingga 2000 awal, komedi di Indonesia didominasi oleh grup lawak dan sektsa. Hingga akhirnya muncul stand up comedy pada awal 2010. Lawakan tunggal ini jelas berbeda dengan komedi konvensional seperti ketoprak. Sebab stand up comedy hanya monolog seorang komedian, tanpa dukungan properti. Hal inilah yang membuat seorang komika harus lebih interkatif untuk membangun suasana dengan penonton.

"Stand up comedy itu melawak secara tunggal di atas panggung. Sendirian,” kata Komika Jogja Zainal Arifin kemarin (2/2).

Selain sebagai hiburan, stand up comedy juga mengajak penonton untuk berpikir kritis. Mengenai hal-hal yang terjadi di kehidupan sosial, politik, dan permasalahan populer lainnya. Pun tidak jarang, digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang lebih santai dan lucu.

"Ketika muncul komedi sendirian terus ada interaksi, penonton mungkin jadi tertarik karena penasaran dan kebaharuan,” ungkapnya.

Hal itu, lanjutnya, yang membuat stand up comedy tetap eksis hingga 10 tahun terkahir. Sebab sebelumnya, awal mula warna komedi baru ini booming karena adanya video Raditya Dika sekitar 2011. Saat itu, komedian ternama itu open mic pada comedy cafe di Jakarta. "Itu dokumentasinya dari Ernest Prakasa. Tapi sebelum itu sudah ada gerakan-gerakan stand up comedy, bahkan tahun 2009," katanya.

Pemilik nama panggung je Arif itu menjelaskan, komika saat ini ditantang untuk menghadirkan materi yang lucu dan selalu terbaru. "Artinya konsistensi menulis dibutuhkan dalam komedi baru ini," ucapnya.

Menurutnya, bahan materi lawakan bisa diambil dari isu lingkungan sekitar atau hal yang viral. Seperti tentang politik dan kontestasi pemilu. Namun perlu diingat, poin lucu dan kritikan yang disampaikan sebaiknya tidak membuat orang lain tersinggung. Biasanya, materi yang disampakian oleh komika hanya dibatasi 3-5 menit. Kecuali untuk show tertentu, bisa lebih dari satu jam.

Namun bagi pemula, Arif berpesan untuk mengambil bahan materi dari dari diri sendiri. "Misalkan kita orang mana, tinggal di mana, hobi, pekerjaan apa, itu bisa digali dicari-cari titik lucunya," tambahnya.

Meski demikian, tidak semua penonton bisa paham dengan materi yang disampaikan oleh komika. Terkadang, masih saja ada penonton yang mudah tersinggung. "Atau ketika nonton malah diajakin ngobrol atau nge-hackling (upaya menggagalkan perform),” sebutnya.

“Padahal nonton stand up dengerin saja. Nggak usah diteriak-teriakin kayak nonton ludruk sih sebenarnya," tandas laki-laki 30 tahun ini. (wia/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#stand up comedy #Jogja