RADAR JOGJA - Industri food and beverage (F&B) belakangan sedang diramaikan dengan olahan pastry bernama cromboloni. Olahan ini adalah fusion atau perpaduan dari dua olahan yakni croissant dan bomboloni.
Executive Consultant sekaligus Head Chef Favor Patisserie Pizzeria & Eatery Arya Sanjaya mengatakan, sebelumnya juga sudah ada olahan pastry yang serupa bernama le supreme. "Kami sendiri sudah ada menu tersebut sejak tahun lalu," katanya Kamis (14/12).
Arya mengaku bahwa kemiripan olahan pastry tersebut tak terlalu dipermasalahkan. Dia juga merespons baik atas masifnya cromboloni di kalangan masyarakat dan membuat kenaikan permintaan order setiap hari. Bahkan, Favor sendiri saat ini menjalankan sistem pre-order (PO) untuk cromboloni.
"Khusus cromboloni, permintaannya sangat tinggi, kami bisa terima sampai 500 orderan per hari," sambungnya.
Untuk rasa, Favor saat ini menyediakan enam varian. Meliputi plain, matcha, choco, oreo, lotus, dan almond. Sementara harga yang ditawarkan dipatok mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 19 ribu.
"Kita terima order khusus misalnya minta cromboloni premium, itu bisa kita lakukan dari bahan baku sampai size-nya premium," lontarnya.
Secara umum, Arya mengakui bahwa masifnya cromboloni ini jadi berkah bagi para pelaku F&B. Namun juga harus dibarengi dengan adanya inovasi untuk terus mempertahankan eksistensi olahan tersebut. Salah satu inovasi yang akan dilakukannya adalah merencanakan berbagai varian rasa baru setiap bulannya.
"Kita development varian rasa baru untuk menjaga eksistensinya, dan ketika nanti masa viralnya sudah menurun cromboloni tetap akan dijual sebagai menu reguler," tuturnya.
Terpisah, Olivia Arlinda juga memanfaatkan momentum masifnya cromboloni dengan melakukan bisnisnya. Berbekal kemampuan yang dipelajari otodidak dan home pastry, dia menjual cromboloni dengan sistem PO.
"Emang suka bikin kue, tapi sebelumnya gak jualan, cuma konsumsi sendiri atau bagi ke temen, lalu pas ini viral akhirnya coba jualan," terangnya.
Diakuinya, meski belum menerima order dalam jumlah banyak, dia mengaku permintaannya hampir selalu ada selama beberapa minggu belakangan.
"Tapi masih skala kecil, paling banyak 20," lanjutnya.
Secara produksi, diakuinya tidak terlalu susah. Sebab banyak referensi dari sosial media yang dia terapkan untuk proses pembuatannya. Sementara menyoal harga, Olivia mematok cromboloni buatannya mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu.
"Sebelumnya aku cek harga pasaran dan beli langsung di beberapa toko sih buat perbandingan," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita