Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jika Sekadar Konten, Bisa Berisiko 

Winda Atika Ira Puspita • Sabtu, 15 Juli 2023 | 14:00 WIB
Tren bushcraft disebut sudah menjadi gaya hidup, khususnya bagi anak muda
Tren bushcraft disebut sudah menjadi gaya hidup, khususnya bagi anak muda

RADAR JOGJA - Tren bushcraft disebut sudah menjadi gaya hidup, khususnya bagi anak muda. Baik bagi mereka yang memiliki keahlian atau hanya sekadar dijadikan konten semata. Jika hanya untuk konten semata, kegiatan bushcraft bisa berisiko dan membahayakan penggiat.

“Melakukan perjalanan, ntah itu solo maupun berkelompok dengan pengetahuan yang minim. Mencoba untuk melakukan aktivitas di alam bebas berdasarkan panduan konten itu agak beresiko," tegas Bidang Operasi TRC BPBD DIJ Endro Sambodo Jumat (14/7/23).

Endro menegaskan, buscraft dan survival berbeda. Survival adalah teknik bertahan hidup di alam bebas dalam kondisi tidak terduga. Sedangkan buscraft adalah seni bertahan hidup di alam liar karena keinginan sendiri. Pelaku seni bushcraft harus memiliki bekal keahlian.

Hal standar yang perlu disiapkan adalah manajemen perjalanan. Pelaku harus paham terkait waktu atau lama perjalanan yang direncanakan. Ketika sudah merencanakan lama perjalanan tersebut, maka perlu di tambah satu hari untuk cadangan. Sebagai antisipasi jika terjadi kendala di jalan. Dalam manajemen perjalanan juga perlu mempersiapkan bekal yang dibutuhkan untuk konsumsi.  

Kedua adalah skill atau kemampuan bertahan hidup di alam bebas. Pelaku bushcraft di sini perlu mempelajari hal-hal mendasar dari survival. Mencakup cara mendapatkan air dan makanan, cara membuat shelter atau tempat berlindung, cara membuat api, hingga ilmu navigasi.

"Bushcraft survival berarti harus dengan alat-alat yang kita temui di alam. Kalau survival bisa kita membawa suatu hal. Kembali lagi ke manajemen perjalanan ketika kita melakukan perjalanan di alam bebas kan ada survival kit," ujarnya. 

Dia merinci, survival kit yang dibutuhkan meliputi pisau lipat multifungsi, flysheet atau jas ponco, pemantik api, sleeping bag dengan cadangan emergency blanket, hingga obat-obatan medis. Ketika tidak membawa itu semua, maka pelaku brushcraft harus mampu menguasai bushcraft survival. 

"Misalnya pusing, sakit perut atau gatal-gatal, tumbuhan apa yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati itu. Tapi bicara survival kita sudah punya medical kit individu. Teknik bushcraft tidak memakai itu semua, kita memanfaatkan apa yang ada di alam," tegasnya. 

Menurutnya, bushcraft bisa dilakukan secara individu maupun berkelompok. Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pun semuanya berpotensi berisiko. Mindset pencegahan perlu dikedepankan ketika melakukannya seorang diri. "Jangan sampai kita kenapa-kenapa di situ, meskipun kita sudah dibekali ataupun punya basic," ujarnya. 

Namun, bushcraft secara berkelompok memiliki potensi kemungkinan selamat lebih besar. Sebab secara psikologis atau fisik, mereka akan lebih nyaman berkelompok daripada sendiri. Ada pembagian tugas untuk mencari air, perapian, makan, hingga berjaga saat malam. "Ketika individu maka dia harus melakukan kegiatannya sendiri," tambahnya. 

Dengan demikian, para pemula yang akan melakukan seni bushcraft disarankan belajar terlebih dulu. Kepada orang yang sudah profesional di bidang survival maupun bushcraft survival.  Terlebih, saat ini sudah banyak kelompok, organisasi, atau yayasan yang fokus di bidang tersebut. "Ketika pengen memperdalam, belajar, atau melakukan perjalanaan di alam bebas ya berkonsultasi dengan pihak-pihak yang memang fokus di bidang tersebut," pesannya. (wia/eno)

Editor : Satria Pradika
#Bushcraft #BPBD