RADAR JOGJABerbicara tentang ramalan, tidak melulu berkaitan dengan hal mistis. Ternyata ini adalah sebuah ilmu yang bisa dipelajari lantaran memiliki metode dan struktur. Christina Merabella adalah salah seorang peramal yang membuktikannya.

Lahir dalam keluarga yang kejawen, perempuan yang akrab disapa Jeng Bella ini mulai tertarik dengan ramalan sejak 2005. Hanya, ketertarikan itu berangkat dari rasa ingin tahu. Bukan sesuatu yang acap disebut sebagai ‘wahyu’.
“Pada umumnya orang mengira peramal adalah wahyu. Padahal meramal atau memprediksi banyak yang tidak dengan wahyu,” ungkap Jeng Bella saat dihubungi Radar Jogja Jumat (9/7).

Perempuan kelahiran 1984 ini tidak menampik eksistensi peramal yang mendapat penglihatan dan bisikan. Tapi, perempuan yang memiliki lesung pipi ini memilih untuk mengembangkan ilmu ramalan pada sesuatu yang dapat dijelaskan. Semacam semi ilmiah. “Kalau saya, kebetulan arahnya lebih ke metode,” sebutnya.

Metode yang pertama kali dipelajari oleh Jeng Bella adalah pembacaan kartu tarot. Menurutnya tarot bekerja dengan anconsismain collective. Terdapat tanda dari setiap kartu yang muncul. Tanda itu dibaca melalui gambar dan lambang yang ada di kartu. Itu disebut semiotika. “Lambang atau gambar ini memiliki arti. Jadi kami menerjemahkan arti dari si tarot ini,” jelasnya.

Prinsipnya sama, dengan awan yang tampak mendung. Prediksi yang muncul adalah potensi turunnya hujan. Meskipun, bisa saja itu tidak terjadi. Kemungkinan terjadinya hujan, kemudian dapat ditempatkan pada posisi sang klien. “Ini bisa dipelajari, ada metodenya dan strukturnya. Jadi yang saya baca itu potensi yang dapat terjadi dalam kehidupan,” bebernya.

Kini terhitung sudah sembilan tahun, penggemar olahan jengkol ini membuka jasa ramal profesional. Agak sungkan, dia mengaku kini kerap mendapat kunjungan dari calon bupati dan anggota DPR yang akan mencalonkan diri ini dalam pemilu. “Ya ada, tapi saya tidak bisa share siapa orangnya,” ujarnya.

Tapi dalam proses pengembangan kemampuan meramal yang menggunakan metode, ternyata itu tidak mudah. Jeng Bella mengaku terkendala dalam bahasa. Misalnya saja, metode dizi (baca: pakce) yang berasal dari tanah Tiongkok. Tapi, Jeng Bella mendapat buku yang membahas metode ini dalam Bahasa Inggris. Sehingga terjadi pergeseran makna dalam mempelajari pembacaan. “Tapi kalau itu, kami bisa atasi,” cetusnya.

Nah, yang tidak dapat diatasi oleh Jeng Bella adalah stigma. Penilaian negatif masyarakat terhadap sebuah prediksi atau ramalan akan sebuah potensi. “Padahal yang diprediksi belum tentu akan terjadi. Ini adalah potensi yang akan terjadi, bukan pasti terjadi,” ucapnya.

Namun, perempuan yang tertarik mempelajari tarot karena Mama Laurent ini memakluminya. Stigma ini muncul dan sulit untuk diubah. Lantaran pandangan masyarakat yang luas dipengaruhi oleh kebudayaan dan pola pikir yang tertanam puluhan bahkan ratusan tahun lalu. “Ketika seseorang tidak mengetahui cara menganalisa dan prediksi, untuk bisa menerima sangat sulit,” katanya (fat)

Lifestyle