RADAR JOGJA – Aeromodelling menjadi salah satu kegiatan yang cukup diminati belakangan ini. Selain sebagai hobi, juga untuk sekadar penghilang stres di masa pandemi Covid-19. Salah satunya ditekuni penghobi pesawat remote control (RC) Muhammad Husni Kadafi.

Husni, sapaannya mengaku menyukai dunia aeromodelling sejak duduk di bangku sekolah dasar alias SD. Awalnya ketertarikan itu muncul ketika dirinya melihat video pembuatan pesawat RC di YouTube. Rasa penasarannya itu yang mendorongnya untuk merakit pesawat sendiri atau handmade. “Saya mulai merakit pesawat setahun ini, karena efek pandemi sekolah dirumah jadi ya banyak waktu luang terus coba-coba bikin,” kata Husni Kepada Radar Jogja, Jumat (9/7).

Husni mengatakan, teknik merakit pesawat RC dipelajari secara otodidak. Tak jarang ia mencari referensi video-video di YouTube dan belajar dari komunitasnya. Menurutnya pesawat handmade lebih murah dan hemat ketimbang harus membeli dari pabrikan. “Untuk harga handmade mungkin kisaran Rp 250 ribu – Rp 500 ribu,” papar pemuda yang tergabung dalam komunitas MaburBareng Aeromodelling Community (MBAC) itu.

Untuk membuatnya, Husni menggunakan gabus atau polyfoam sebagai bahan utama. Lalu, triplek atau kayu basah untuk memperkuat body pesawat. Kemudian roda pesawat ia menggunakan jeruji sepeda dan busa tahan api atau eva foam. Sedangkan perangkat elektroniknya ia pesan dari online store.
Model pesawat aeromodeling yang dibuat adalah jenis trainer. Biasanya pengerjaan pesawat memakan waktu tiga sampai tujuh hari. Tergantung model pesawatnya. Sampai saat ini total sekitar lima koleksi pesawat yang ia rakit. “Kalau sekarang masih jadi koleksi pribadi sih, tapi semoga ke depan bisa untuk dijual jadi peluang bisnis,” ujarnya.

Husni bercerita, awal pembuatan pesawat RC tak berjalan mulus. Bahkan, beberapa kali pesawat rakitannya sempat mengalami gagal terbang. Namun, berkat usaha dan kegigihannya ia pun akhirnya berhasil merangkai dan menerbangkan pesawatnya di Lapangan Macanan Madurejo, Prambanan. “Kalau dulu sempat kesusahan karena ilmunya masih kurang, ternyata ada itung-itungannya gitu. Itu saya dipelajar dan akhirnya sekarang sampai bisa terbang,” ucapnya dengan bangga.

Pesawat buatan pemuda asal Ledoksari, Bokoharjo, Prambanan, Sleman itu mampu terbang dengan ketinggian sekitar 120 meter, sesuai aturan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Sementara, rata-rata pesawat yang dia rakit memiliki bentang sayap 100-150 cm.

Bagi Husni, bermain pesawat RC sangat mengasyikkan. Selain bisa merasakan menjadi pilot sungguhan, pesawat RC juga bisa bermanuver di langit sehingga pengemudi bebas melakukan gaya apapun. “Kayak pilot beneran karena bidang kontrolnya hampir sama kayak pesawat asli,” pungkasnya. (ard)

Lifestyle