RADAR JOGJA- Di tengah pandemi Covid19, para pengrajin produk bambu di Jogjakarta  tetap bertahan bahkan mampu menembus Pasar luar negeri.

Sono Deling, nama produk Panel Bambu ciri  khas kampung Kadisono, Berbah Sleman ini kini dilirik pasar Rusia dan Australia.

Bambu merupakan tanaman khas yang masih banyak dijumpai diberbagai pelosok daerah di Indonesia. Salah satunya di Sleman yang dimanfaatkan menjadi kerjainan unik dan cantik. Panel bambu Kadisono yang diberi nama branding Sono Deling yang berarti bilah bambu cantik dari desa Kadisono.

Di tangan dingin pengrajinnya, bilah-bilah bambu ternyata bisa disulap menjadi produk kreatif panel bambu yang unik, cantik sekaligus kuat, merupakan karya bersama dua orang pengrajin yang bersinergi, yakni Sumitro Hadi Joko Sautra, yang akrab disapa Gatot, dan Sari Setyawati atau Zarra. .

Keduanya pun berbagi tugas yakni untuk bagian produksi dipegang oleh Gatot, sementara untuk pemasaran dan manajemen diurus Zarra. Hasilnya pun diluar dugaan, pasalnya karya warga Kadisono, Tegalrejo RT 05 RW 13 Berbah Sleman,  mulai dilirik pangsa pasar luar negeri.

Produk Panel Bambu Sono Deling dipesan hingga pengusaha asal negeri Beruang Merah Rusia dan negeri Kanguru, Australia.

“Kita berayukur, ditengah pandemi produk kita masih bisa bertahan, sehingga kita tetap bangkit memberi karya terbaik kita Produk panel Bambu, harapannya bisa menjadi inspirasi, bagi siapapun yang ingin maju dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar  Zarra, Minggu (21/1).

Bahan baku yang melimpah di daerah Sleman dianggap bisa membantu kedua pengrajin ini memproduksi panel bambu. Sementara alat dan bahan-bahan lainnya, sebagian didatangkan dengan cara online diantaranya ijuk, yang dipesan dari petani ijuk di Boyolali Jawa Tengah.

Proses pembuatan Panel Bambu ink cukup sederhana, namun membutuhkan keuletan dan ketekunan. Proses kreatif memadukan skil dan seni ini membuat produk panel kayu tampil berkelas.

Untuk mempercantik tampilan, sekaligus nguri nguri budaya Jawa, pada bagian pengikat bambu menggunakan tali ijuk. Selain itu, seluruh proses pembuatan dilakukan secara handmade, mulai proses konsep ysng menggandeng desainer yang mendesain sekaligus menterjemahkan kemauan pemesan luar negeri.

Tak hanya itu, pada proses finishing, yakni pengemasan produk menjadi paling mendasar agar saat tiba ditangan pemesan, produk panel bambu tetap aman dan kondisi tak berubah sesuai pesanan.

” kita menggunakan ijuk, karena jaman dulu orang Jawa itu memanfaatkan pengikat ijuk, justru ini menambah nilai seni bagi produk, tapi tetap menjaga kualitas, karena tali ijuk dengan sendirinya bisa memperkuat panel bambu itu sendiri,” kata Gatot.

Hingga kini, panel bambu SONO DELING bisa bertahan meski di tengah pandemi Covid19, bahkan kini makin diminati.

Selain pasar manca negara, panel bambu juga dipesan di wilayah  Jogjakarta dan sekitarnya, terutama untuk mendesain kafe restoran, hotel , homestay maupun perkantoran. Bahkan pemesan juga datang perorarangan untuk rumah maupun penghias ruangan.

Untuk panel bambu Sono Deling memasang harga untuk pasar lokal sebesar 70 ribu rupiah per meternya, sedangkan untuk pasaruar negeri diharga 100 ribu rupiah per meter.

Para pengrajin berharap meski diterpa pandemi Covid19 usaha mereka masih bisa bertahan bahkan mamlu berbicara banyak di level internasional.

“Kerja keras dan proses kreatif membutuhkan inovasi maupun modifikasi, kita selalu terbuka untuk beradaptasi di tengah Pandemi, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi pemasaran berbasis online hingga media sosial,” pungkas Zarra. (*)

Lifestyle