RADAR JOGJA – Ketoprak tobong dulu begitu familiar di kalangan masyarakat, khususnya di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur. Pertunjukan ketoprak secara keliling, dari kota satu dalam kurun waktu tertentu kemudian pindah kota lain, ini cukup diminati penonton.

Tak heran dalam pertunjukan di suatu daerah, banyak penontonnya. Tiket dipakai sebagai tanda masuk untuk bisa menikmati kiprah para seniman ketoprak. Jika grup ketopraknya telah punya nama alias terkenal plus lakonnya menarik, penontonnya bisa berjubel setiap malamnya.

Ketoprak tobong bukanlah sebuah pargelaran seni biasa. Pargelaran ini lentur pada pengaruh dan perubahan zaman. Tapi, dasar yang digunakannya, tetap mengacu pada seni tradisional. Radar Jogja menjumpai seorang peneliti ketoprak tobong sekaligus dosen Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Koes Yuliadi.

Koes Yuliadi.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)

Kemunculan ketoprak tobong disebut pecinta teh ini setelah adanya Sriwedari. Sebuah pagelaran yang hadir dan membawa pengaruh Eropa pada sekitar awal 1900. Ciri khasnya terletak pada penggunaan panggung proscenium atau biasa juga disebut sebagai panggung bingkai. Beberapa pejuang ketoprak, kemudian mengadopsi panggung tapi menggunakan tobong.

“Tobong sendiri merupakan bangunan semi permanen dari bambu dan menggunakan atap rumbia. Sifatnya knock-down, bongkar pasang,” papar Koes saat ditemui di kampus Pascasarjana ISI Jogjakarta, Kamis (14/1).

Nah, kenapa ketoprak ini menggunakan bangunan semi permanen? Alasannya, karena mereka nomaden. Semacam karavan yang dilakukan oleh orang Gipsi. Tapi di Jawa, tradisi unik ini disebut mbarang. Tradisi ini biasa dilakoni oleh seniman, utamanya penari. Secara kolektif, sekitar lima orang melakukan perjalanan jauh. Tiap berhenti, mereka akan menggelar pertunjukkan di lokasi itu.

Hampir sama, ketoprak tobong pun berpindah-pindah lokasi. Dari satu lokasi ke lokasi lain. Mereka melakukan perpindahan sekitar tiga bulan sekali. Jumlah komunitas yang dibawanya mencapai 300 orang. “Jadi kalau ketoprak tobong itu mbarang-nya tidak perorangan, tapi komunitas. Sampai ada tukang bakmi, tukang gorengan, tukang becak. TK juga ada,” ungkapnya, penuh bersemangat.
Dengan komunitas yang besar, tentu lahan yang digunakan oleh sebuah ketoprak tobong juga harus luas. Koes mengungkap, ketoprak tobong asal Surabaya, Siswo Budoyo, pernah bertandang ke Jogja. Ia pun menyebut, tobong yang dibangun Siswo Budoyo mencapai 75 persen luas Alun-Alun Utara Jogja pada sekitar 1999 akhir.

“Besar sekali, karena mereka tinggal di sana, bikin kamar mandi. Bagian belakang dijadikan kamar, kemudian ada panggung, dan di depannya taman pakir,” ujarnya, takjub.

Kendati mengadopsi pola Eropa, cerita lokal atau foklor Jawa tetap menjadi dasar utama pertunjukan ketoprak tobong. Semua lakon berangkat dari sejarah lokal, utamanya diambil dari Babad Tanah Jawa. Kemudian dikombinasikan dengan perkembangan pengetahuan dalam seni pertunjukkan.

“Sudah terpengaruh Eropa, bentuk panggung dan manajerial. Itu menarik. Pendiri ketoprak tobong Siswo Budoyo, Pak Siswondo Harjo Suwito bahkan mengangkat ketoprak dengan gaya stambul dan adegan film. Itu asumsi saya. Sementara ketopraknya memiliki dramaturgi sendiri yang plotingnya mengikuti gamelan,” urai Koes.

Menurutnya, ketoprak tobong menjadi kecintaan rakyat adalah hal yang wajar. Sebab apa yang ditampilkan oleh ketoprak tobong adalah tentang impian rakyat. Dengan kemasan menarik menggunakan kostum mewah, pencahayaan modern, plot, alur, dan penataan artistik yang bagus ala Eropa. “Apalagi kalau Pak Sis yang main, bagus sekali. Nggak sayang membeli tiket karena yang diperoleh luar biasa,” pujinya.

Koes menyayangkan, ketoprak tobong saat ini mendekati senja. Lantaran tidak ada lagi sosok besar yang menggemari kebudayaan Jawa dan memiliki kemampuan manajerial. “Figur seperti ini tidak selalu ada. Bayangkan, hidup untuk pertunjukan. Itu asumsi saya, untuk membuat tobong, butuh orang yang lahir secara manajerial tidak bisa dilatih, susah sekali,” sebutnya, merujuk Siswodo HS. (fat/laz)

Lifestyle