RADAR JOGJA – Penari Bisa Dihargai secara Akademis Kedua orang tuanya adalah seniman. Ayahnya tersohor sebagai Bapak Pantomim Indonesia, Jemek Supardi, Sementara ibunya, Threeda Mayrayanti, adalah seorang pelukis. Tapi perempuan ini memilih media tari sebagai pengungkapan rasa. Dia adalah Kinanti Sekar Rahina.

Pertemuan Sekar, sapaannya, dengan tari dimulai sejak usia kanak-kanak. Ketika ibunya kerap memutar tembang saat sedang melukis. Mendengar itu, tubuh Sekar merespon dengan tari. Ayahnya pun segera menyadari ketertarikan sang putri tunggal. “Bapak tanya, mau ikut nari po? Mau-mau,” Reka Sekar, teringat kenangan masa kecilnya.

Sekar pun memilih ikut kelas balet. Itu lakoninya saat duduk di kelas 3 SD sampai 6 SD. Usai itu, Sekar berhenti menari. Sebab Sekar masuk SMP swasta. Kendati perempuan berambut panjang ini mengikuti ektrakurikuler tari, dia lebih suka bersembunyi. “Aku pilih-pilih, enggak suka tari itu (jenis tertentu, Red),” ujarnya lantas tertawa.

Ketertarikan perempuan kelahiran Jogjakarta 26 Juli 1989 itu pada dunia ketubuhan kembali tumbuh di penghujung SMP. Perempuan yang kini menjadi ibu dua orang putra itu, memutuskan untuk melanjutkan pendidikan menengah atasnya di SMKI, atau sekarang dikenal SMKN 1 Kasihan. Di sana, Sekar mulai mengenal teks klasik, seperti Ramayana dan Mahabarata. “Kemudian lanjut ke ISI, masuk tahun 2007 lulus 2012. Setelah lulus diajak nikah,” ucapnya seraya menunjuk ke arah rumah.

Namun, perjalan Sekar untuk hidup dalam dan menghidupi tari pun bukan tanpa tantangan. Dia harus melawan pandangan, dunia seni tidak dapat menjadi penopang hidup.

“Aku tuh ingin memberi gambaran. Bahwa sebuah kesenian bisa dihargai. Penari bisa menjadi penulis, bisa menjadi tata rias. Bahkan penari bisa dihargai secara akademis,” ujarnya menggebu.

Langkah besar pun dipijaki perempuan yang pernah tergabung dalam Tembi Dance Company itu. Dia mendirikan Sanggar Seni Kinanti Sekar pada 2015.

“Untuk mengembangkan seni, sesuatu yang berat dapat menjadi tantangan. Kalau tidak, akan stag. Keenakan. Di sekitar saya ada banyak sanggar. Jadi untuk dapat bertahan, harus memiliki karakter. Harus ada yang bisa dijual dan beda dengan sanggar lain,” sebutnya.

Keberadaan sanggar nyatanya melahirkan kepuasan, bagi diri Sekar. Sebab dia mampu menularkan kecintaannya pada dunia tari ke murid yang dibimbingnya. Sementara kepuasannya sebagai koreografer diperoleh saat praktisi seni tari dan pengamat mampu menangkap gelombang gerak tubuhnya.

“Itu puas banget,” cetusnya dengan senyum yang mengembang. (cr2/pra)

Lifestyle