RADAR JOGJA – Kesuksesan pembudidayaan beragam pohon bonsai, tidak terlepas dari beberapa penggiatnya yang telah dilakukan sejak lama.

Salah satunya, Rendra Prihaswara, yang telah lama menggeluti dunia bonsai sejak 1994 silam. Tentu saja ada cerita di balik perjuangan pria 39 tahun itu. Dalam usahanya tersebut, hingga menjadi  pembudidaya berhasil.

“Ya untuk bonsai sendiri itu hobi yang saya geluti. Hanya untuk memuaskan lahir maupun batin saya,” katanya disela kontes dan pameran di Sleman City Hall (SCH) Kamis (12/11).

Kenapa menggeluti bonsai? Sebab, bonsai penuh dengan filosofi. Selain pengerjaan atau proses membonsai yang selalu dinikmati dari tahap ke tahap. Bukan hanya sekedar pohon yang diberi media tanam kemudian pemupukan dan perawatan hingga menunggu membesar. Namun, di balik itu semua ada proses yang panjang harus dilalui dan teliti. Dengan filosofi segitiga tidak sama kaki.

“Membonsai itu ada proses seperti manusia. Ada los dibesarkan ketika nggak bagus dipotong lalu diarahkan. Ketika diarahkan sudah dinamis ketemu semua gerakannya, jadi tidak asal semua gerakan karena setiap bonsai pasti ada alasan,” ujarnya.

Warga Kota Jogja itu menggeluti bonsai tidak untuk orientasi kepada materi. Walaupun, jika dibisniskan bisa menghasilkan nominal yang tidak sedikit. Misal saja, satu batang bahan bonsai dengan harga bervariatif mulai dari Rp 500 ribu hingga milyaran tergantung jenis bahan bonsai itu sendiri. Karena, bukan hanya sekedar bahan membawa kuantitas melainkan juga kualitas yang bisa dipertanggunghawabkan sampai ke depan. Pun tergantung juga dengan kesulitan dan kelangkaan pohon.

“Kalau saya lebih orientasi murni berkarya bukan pedagang. Karena ketika saya berkesenian pesan dari karya saya bisa tersampaikan oleh audience,” jelas anggota komunitas regional Persatuan Penggemar Bonsai Yogyakarta (PPBY).

Hobinya ini tidak pernah ada target. Apapun dia lakukan dalam dunia bonsai. Sekalipun, meski terbilang sudah 20 tahun lebih sebagai pembudidaya tetapi ia tak pernah berhenti belajar dan menambah wawasan atau ilmu pengetahuan berbonsai. Apa yang dilakukannya lebih kepada untuk kepuasan diri yang bisa dinikmati lahir dan batin.

“Kalau secara pribadi bonsai bagi saya lebih dari sekedar pasangan suami istri jadi semacam ada rohnya. Kalau orang sudah benar-benar menghayati seperti orang gila,” sambungnya.

“Berkesenian itu bebas tapi ada aturannya. Dibonsai itu ada kaidahnya apa saja yang nggak boleh ditinggalkan,” tambahnya.

Kenapa terlalu menggeluti bonsai? Karena sudah paham akan ilmu botaninya. Sehingga keinginan untuk belajar semakin ditingkatkan. Apalagi setiap pohon memiliki karakter yang berbeda-beda. Bak merawat bonsai seperti merawat bayi yang tidak akan pernah tumbuh dewasa.

“Jadi harus lebih ekstra mulai dari memikirkan dia kapan butuh waktu makan, nutrisi, vitamin dan lain-lain. Ketika pohon dikebun akan tumbuh liar. Tapi ketika naik dipot sudah menjadi calon bonsai bahkan sampai bonsai menua,” terangnya.

Adapun pohon yang bisa dibonsai seperti pohon lokalan serut, atau jenis-jenis pohon beringin dengan banyak varian salah satunya pohon waru. Maupun pohon pada umumnya, seperti beringin kimeng, cemara udang, anting putri, dan masih banyak lagi. “Kesulitan bonsai, biasanya karena memakan waktu lama. Ketika kita suburkan satu pohon lalu kita tuakan dan ini butuh proses panjang. Semakin tua maka semakin bagus,” tandasnya.

“Suka dukanya, ketika pohon dirawat dengan kasih sayang tiba-tiba nggak pernah ngerti musibah kapan datang yang tadinya pohon itu sehat tiba-tiba nge-drop itu yang buat sangat sedih,” paparnya. (wia/bah)

Lifestyle