RADAR JOGJA – Seorang perempuan parobaya sibuk di dapur sederhana. Api dari kayu yang dibakar di tungku untuk memasak sekaligus menjadi penerang. Hari masih gelap, perempuan itu terus memasak dengan sepenuh hati.

Perempuan itu adalah Mbok Lindu, pada suatu pagi sekitar setengah abad silam. Perempuan bernama asli Biyem Setyo Utomo tersebut memasak gudeg untuk kemudian dijual.

Lapak pertamanya ada di sebuah pos kampling di Jalan Sosrowijayan No 30 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, Kota Jogja. Waktu berjualan mulai pukul 05.00 sampai sekitar pukul 11.00.

“Sekitar jam empat subuh itu biasanya jualan Simbah sudah siap semua,” kata Ratiyah, anak ketiga Mbah Lindu, saat ditemui di rumah keluarga Rabu (15/7). Rumah tersebut beralamat di Dusun Klebengan CT VIII Blok E-6 Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Mbah Lindu membawa gudeg dan semua pelengkapnya dengan berjalan kaki. Berkilo-kilometer. Tak pernah mengeluh selama melangkahkan kaki menuju lapak di Sosrowijayan.

”Dulu Simbah jualannya juga berjalan kaki. Sekitar dua kilometer kalau dihitung dari rumah,” kenang Ratiyah.

Mbah Lindu mengolak gudeg dengan sepenuh hati. Persiapannya matang.

Dia mencari nangka sebagai bahan utama gudeg pada siang hari. Setelah itu, dia mencari krecek dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan.

Menjelang sore, dia mulai dimasak. Termasuk menyulap nangka muda menjadi gudeg.

Gudeg matang saat malam hari. Gudeg matang dibiarkan sepanjang malam agar bumbunya lebih meresap.

Ketika pagi buta sebelum subuh, Mbah Lindu kembali berkutat di dapur sederhana itu. Memasak nasi. Juga, memasak bubur sebagai pelengkap gudeg.

Gudeg dan pendampingnya dimasak secara tradisional. Apa yang digunakan untuk memasak selalu berasal dari kayu bakar. ”Api kayu bakar karena panas yang dihasilkan lebih merata sehingga tingkat matang makanan yang diolah menjadi lebih pas,” ungkap Ratiyah, memaparkan alasan Mbok Lindu selalu menggunakan kayu bakar dalam mengolah gudeg.

Gudeg Mbok Lindu dikenal memiliki cita rasa gurih dan tekstur yang basah. Taste olahan krecek pun dinilai ”unik” dan ”spesial”.

Tak heran, gudeg Mbok Lindu memiliki banyak penggemar. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Tak hanya warga biasa.

Penggemarnya juga banyak pejabat dan artis. Bahkan, ada penggemar dari mancanegara. Ketika sedang berkunjung ke Jogjakarta, mereka meluangkan waktu untuk menikmati gudeg Mbok Lindu.

Kelezatan gudeg karya Mbok Lindu diakui banyak pihak. Salah satunya yakni gudeg Mbok Lindu masuk dalam Street Food: Asia  yang ditayangkan Netflix.

Namun, kini, Mbok Lindu telah pergi. Pada Minggu (12/7), perempuan hebat ini meninggal dunia dalam usia sekitar seratus tahun. Perempuan itu telah berjualan gudeg sejak berusia sekitar tahun. Bahkan, perempuan itu telah berjualan gudeg sejak negeri ini dijajah oleh bangsa lain.

Saat ini, pengemarnya tentu sangat merindukan citarasa gudeg yang diolah sepenuh hati oleh Mbok Lindu. Termasuk Anda?

Insyaallah akan saya teruskan dengan tetap menjaga resep yang diwariskan oleh Simbah,” ujar Ratiyah lirih. (inu/amd)

Lifestyle