SEBAGAI pimpinan tertinggi di jajaran Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda DIJ Kombes Pol Nasri Wiharto tidak ingin dianggap sebagai pemimpin yang otoriter, apalagi ditakuti masyarakat. Menghindari kesan sangar pria kelahiran Solo Jawa Tengah ini selalu melibatkan berbagai instansi. Baik instansi pemerintah maupun organisasi serta komunitas masyarakat ketika akan mengambil kebijakan yang berkaitan dengan jalan raya dan lalu lintas. “Polisi adalah sahabat masyarakat,” kata Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda DIJ Kombes Pol Nasri Wiharto kepada Radar Jogja kemarin (21/6).
Baginya, semua institusi pemerintah, swasta dan organisasi kemasyarakat atau komunitas merupakan sahabat. Institusi atau organisasi yang dimaksud ialah Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, kontraktor atau pengusaha konstruksi, komunitas otomotif, akademisi, pelajar, mahasiswa. Juga penggemar sepeda onthel, pengayuh becak, andong, juru pakir, produsen kendaraan bermotor, PT Jasa Raharja dan lain sebagainya. “Semua warga ingin dan mendambakan situasi lalu lintas yang aman, nyaman dan tertib. Karena itu, polisi sebagai institusi pemerintah harus melibatkan masyarakat ketika mengambil kebijakan mengenai lalu lintas,” tandasnya.
Pelibatan institusi pemerintah dan organisasi kemasyarakat itu diwujudkan dengan memaksimalkan Forum Lalu Lintas. Forum ini tindak lanjut dari Pasal 256 dan Pasal 257 UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. Forum Lalu Lintas ini diadakan di kantor Ditlantas Polda DIJ seminggu sekali. Dalam Forum Lalu Lintas ini, Nasri selalu mengutamakan fungsi koordinasi hingga mengawasi level eksekusi atau pelaksanaan. Misalnya ia memantau langsung proses perbaikan jalan berlubang dan rekayasa lalin. “Tidak hanya koordinasi, saya juga memantau langsung pelaksanaan atau eksekusi terhadap masalah yang dibicarakan dalam Forum Lalu Lintas,” ungkap Nasri. (mar/ila)

Lifestyle