RADAR JOGJA - Rajendra Farm di Ngargosari, Samigaluh menjadi salah satu wisata alternatif berkonsep wisata edukasi (eduwisata) yang representatif. Tidak hanya memiliki koleksi ribuan kambing dan domba budidaya, di lokasi ini juga ada berbagai jenis kambing yang sengaja dipajang laiknya kebun binatang.
Salah satu kambing koleksi Rajendra Farm yang mencuri perhatian yakni kambing Saanen. Kambing dengan postur tubuh tinggi besar lengkap dengan tanduk panjangnya ini didatangkan langsung dari dataran Swiss. Kambing ini merupakan jenis kambing terbesar di Swiss. Kambing Saanen ini cukup resisten dengan sinar matahari atau cuaca tropis.
"Kami juga memiliki berbagai jenis kambing penghasil susu, seperti kambing Sapera. Kami juga mengolah susu menjadi produk yang kaya gizi dan kuat tersimpan sampai setahun," ucap pemilik Rajendra Farm Heri Kurniawan, kemarin (20/2).
Rajendra farm memang menjadi salah satu wisata edukasi yang berfokus pada peternakan kambing dan domba terpadu. Tempat ini juga memberikan edukasi berupa pelatihan beternak domba. Rajendra Farm juga sudah memasok sejumlah restoran, ada pula yang sudah dikemas dengan proses pengalengan. "Ada olahan gulai dan tongseng yang dikemas menggunakan kaleng. Makanan kaleng ini dimasak masyarakat setempat sebagai salah satu program pemberdayaan masyarakat," jelasnya.
Bagi yang berkesempatan datang langsung, Rajendra farm juga sudah memiliki koki khusus olahan daging. Mereka bisa melihat mulai dari proses penyembelihan, proses memasak, dengan ruangan tersendiri. Tidak hanya produk daging, kotoran kambing juga tidak dibuang sia-sia, melainkan dijadikan pupuk organik.
Tidak hanya puas melihat kambing dan domba di kandang yang bersih dan akses yang sangat mudah, pengunjung praktis bisa belajar teknik budidaya kambing dan doma hingga proses pembuatan pupuk organik. Kawasan Rajendra Farm juga dilengkapi dengan bangunan limasan khusus pelatihan dan wisata kuliner seperti tongseng dan kambing guling. "Kami juga ada fasilitas amphitheater, bisa untuk camping ground atau outbound, kami juga buat panggung bambu berbentuk gunungan. Panggung itu bisa untuk pementasan seni tari dan kegiatan lainnya, bisa juga untuk acara-acara kunjungan dinas dan sebagainya," imbuhnya.
Ditambahkan, eduwisata Rajendra Farm berdiri sejak 2018. Kawasan ini memiliki kapasitas pembudidayaan kambing dan domba sebanyak 1.500 ekor kambing. Pengunjung cukup mengeluarkan kocek Rp 35 ribu per orang untuk mengakses wisata ini.
Disinggung produktivitas kambing dan domba, Heri mengaku untuk memasok kebutuhan daging domba atau kambing wilayah Jogja saja sebetulnya masih kurang. DIJ juga masih mengandalkan kiriman dari luar daerah. Pasokan untuk usaha warung kuliner olahan sate, tongseng. Juga untuk acara-acara selamatan juga belum mencukupi."Kami masih terus mencoba membudidayakan domba dan kambing lebih banyak yang minimal bisa untuk memenuhi kebutuhan lokal Kulonprogo dan Jogja. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa sebetulnya bisa diketahui, kendati bisnis penggemukkan keuntungannya memang minim. Namun dengan kapasitas yang banyak jelas akan lebih baik," katanya.
Disinggung kendala, salah satunya adalah wabah PMK yang kemudian memaksa ada penyekatan supply baik dari Jateng dan Jabar. Jika normal full, kapasitas kandang Rajendra Farm bisa 2000 ekor. "Harga domba relatif stabil, jika terjadi fluktuasi tidak terlalu tinggi," ungkapnya.
Terkait ekspor, sejauh ini masih Singapura. Ada juga permintaan dari Malaysia dan Turki, dan peluang pasar itu sangat bisa digarap. "Namun kami akan menyelesaikan kebutuhan di Singapura dulu, khususnya saat momen Idul Adha. Tahun lalu kami kirim 4500 ekor ke Singapura," ucapnya. (tom/din) Editor : Editor Content