Meskipun abrasi menjadi siklus tahunan, kondisi pasir yang terkikis akan kembali seperti semula saat musim berganti. Namun akhir-akhir ini, abrasinya semakin ke utara. Tidak hanya mengikis bibir pantai dan menumbangkan beberapa pohon cemara udang, tetapi juga kamar mandi warung makan.
Sehingga perlu perhatian dan penanganan serius untuk menangani kondisi tersebut. Minimal untuk menyelamatkan sejumlah bangunan penting di pantai tersebut. Seperti penangkaran penyu milik Konservasi Penyu Abadi Trisik.
"Karena abrasi semakin jauh ke utara maka mungkin perlu dipikirkan relokasi atau membuatkan bangunan pengganti di tempat yang jauh lebih aman," jelas Koordinator SAR Satlinmas Wilayah V Glagah, Aris Widiatmoko kemarin (19/6).
Kondisi saat ini, bangunan konservasi hanya berjarak 10 meter dari bibir pantai. “Untuk wacana relokasi di sebelah barat Pendapa Laguna Pantai Trisik. Tapi kapan direalisasikan belum tau," ungkap Dwi Surya, anggota Konservasi Penyu Abadi Trisik.
Dijelaskan, sedikitnya ada empat dari 13 sarang penyu yang kini sudah menetas. Sebagian anak penyu (tukik) yang sudah sudah dilepasliarkan. Sementara tukik-tukik yang belum dilepas, saat ini masih ada sekitar 140 ekor. "Harapan kami tempat konservasi ini bisa bertahan dan tetap menjadi pusat perlindungan sekaligus tempat penelitian yang bermanfaat," jelasnya. (tom/eno) Editor : Editor Content