Pancing dengan Itik, BKSDA Berusaha Menangkap
RADARJOGJA.CO.ID - KULONPROGO - Penampakan buaya muara sepanjang tiga meter sempat menggemparkan masyarakat di pantai selatan Purworejo dan Kulonprogo. Terakhir, buaya terlihat menghilang di pintu muara Sungai Bogowonto, Congot, Desa Jangkaran, Temon, Kulonprogo. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta turun tangan untuk evakuasi.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Jogjakarta Untung Suripto mengungkapkan, pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat dan Polsek Temon, Jumat (23/12) malam. Posisi buaya berada di dekat pintu muara Bogowonto. Berbekal informasi itu ia langsung berkoordinasi dengan kepolisan dan warga sekitar untuk segera melakukan pencarian.
"Pukul 20.30, buaya terlihat di Pantai Congot, namun karena banyak orang, buaya kembali lagi ke tengah, dan sekitar 01.30 terlihat lagi di sekitar pintu muara Bogowonto. Hingga akhirnya gelombang pasang, buaya menghilang dan pencarian dihentikan pukul 05.00," ungkapnya kemarin (24/12).
Dijelaskan, proses pencarian kembali dilanjutkan pagi harinya dengan menerjunkan lima personel yang dilengkapi peralatan evakuasi buaya. Menurut teori, buaya muara biasa berjemur sekitar pukul 09.00-13.00. Dengan kebiasaan itu BKSDA mencoba memasang umpan unggas berupa itik di muara Bogowonto untuk memancing buaya naik ke daratan.
"Pagi ini kami coba pancing dengan itik, buaya biasanya akan bereaksi dengan hewan yang bergerak. Jika berhasil nanti akan kami lakukan penangkapan, setelah itu akan dititipkan sementara di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY). Kebetulan di Kulonprogo juga ada Wildlife Rescue Center (WRC) atau dulu dikenal dengan nama Pusat Penyelamatan Satwa Jogja (PPSJ) Kulonprogo Jogjakarta," jelasnya.
[ad id="38971"]
Berdasarkan dokumentasi dan hasil pemantauan, lanjutnya, buaya itu jenis buaya muara yang keberadaannya memang dilindungi. Dari mana buaya itu berasal, BKSDA Jogja masih menunggu konfirmasi dari BKSDA Jawa Tengah, mengingat buaya itu muncul dari barat.
"Kami tidak mengakomodasi isu. Patokan kami konfirmasi dari BKSDA Jateng, apakah ada buaya yang lepas dari penangkaran atau tidak. Fokus kami saat ini melakukan penangkapan," lanjutnya.
Menurutnya, sesuai aturan upaya penyelamatan satwa menjadi prioritas. Kendati dalam kondisis tertentu atau jika dinilai membahayakan, maka boleh dilakukan eksekusi sebagai pilihan terakhir.
"Kami utamakan upaya penyelamatan. Kalau toh tidak bisa dan membahayakan, baru kami lumpuhkan. UU No 5 Tahun 1990 tentang Perlindungan Satwa, tepatnya di Pasal 22 Ayat 3 memperbolehkan tindakan itu jika memang dinilai sudah membahayakan," kata Untung.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pengunjung Pantai Congot dan muara Bogowonto, untuk lebih berhati-hati. Segera melapor jika melihatnya, termasuk jika ada satwa lain yang dilindungi. BKSDA akan langsung turun tangan menindaklanjuti.
"Sesuai dengan namanya, buaya ini senang berada di muara, dan tentu suka mencari makan di sekitar muara. Apa saja, jika tengah lapar, warga harus berhati-hati," ucapnya.
[ad id="38971"]
Petugas Pos Sea Rider TNI AL Pantai Congot Kopka Rokimanto menambahkan, kronologi penampakan buaya muara di Pantai Congot bermula pukul 16.00. Buaya berenang dari barat setelah coba ditangkap dan dikejar warga di Pantai Jatimalang, Purwodadi, Purworejo. Buaya itu sempat melintas di pintu muara dan terus berenang ke timur hingga selatan Sindutan, Kulonprogo.
Berdasarkan pemantauan hingga pukul 20.00, buaya dengan warna hitam sedikit kuning itu kembali ke barat, terlihat terakhir di depan puntu muara sekitar pukul 02.00 dini hari. Saat bersamaan gelombang pasang, dan buaya tida terlihat lagi saat dipantau hingga Subuh pukul 05.00.
Dugaan sementara buaya yang sudah dalam kondisi kelelahan itu terbawa arus gelombang pasang dan masuk ke muara Sungai Bogowonto. "Itu yang kami pediksi dan khawatirkan. Kami berupaya mendeteksi keberadaan buaya itu sekarang di mana, supaya bisa menyampaikan kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati saat di pantai atau muara, sebelum buaya itu tertangkap," tambahnya.
Menurutnya, selaku petugas yang berjaga di Pantai Congot, upaya yang dilakukan adalah koordinasi dengan pihak-pihak terkait, dalam hal ini Polairud, Polsek Temon, dan BKSDA Jogjakarta. "Bagi kami yang betugas di sini ada kejelasan tindakan, boleh ditembak atau tidak. Karena buaya itu binatang buas dan membahayakan nelayan dan pengunjung. Keputusan BKSDA boleh dilumpuhkan sebagai upaya terakhir jika tidak bisa diselamatkan," ujarnya. (tom/laz/ong) Editor : Editor News
Petugas Pos Sea Rider TNI AL Pantai Congot Kopka Rokimanto menambahkan, kronologi penampakan buaya muara di Pantai Congot bermula pukul 16.00. Buaya berenang dari barat setelah coba ditangkap dan dikejar warga di Pantai Jatimalang, Purwodadi, Purworejo. Buaya itu sempat melintas di pintu muara dan terus berenang ke timur hingga selatan Sindutan, Kulonprogo.
Berdasarkan pemantauan hingga pukul 20.00, buaya dengan warna hitam sedikit kuning itu kembali ke barat, terlihat terakhir di depan puntu muara sekitar pukul 02.00 dini hari. Saat bersamaan gelombang pasang, dan buaya tida terlihat lagi saat dipantau hingga Subuh pukul 05.00.
Dugaan sementara buaya yang sudah dalam kondisi kelelahan itu terbawa arus gelombang pasang dan masuk ke muara Sungai Bogowonto. "Itu yang kami pediksi dan khawatirkan. Kami berupaya mendeteksi keberadaan buaya itu sekarang di mana, supaya bisa menyampaikan kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati saat di pantai atau muara, sebelum buaya itu tertangkap," tambahnya.
Menurutnya, selaku petugas yang berjaga di Pantai Congot, upaya yang dilakukan adalah koordinasi dengan pihak-pihak terkait, dalam hal ini Polairud, Polsek Temon, dan BKSDA Jogjakarta. "Bagi kami yang betugas di sini ada kejelasan tindakan, boleh ditembak atau tidak. Karena buaya itu binatang buas dan membahayakan nelayan dan pengunjung. Keputusan BKSDA boleh dilumpuhkan sebagai upaya terakhir jika tidak bisa diselamatkan," ujarnya. (tom/laz/ong) Editor : Editor News