KULON PROGO - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Bumi Binangun terus bertambah. Sejak awal tahun hingga minggu pertama Februari, sudah tercatat 91 sapi terjangkit PMK. Paling banyak ditemukan di Kapanewon Temon dengan temuan 41 kasus. Sedangkan di Kapanewon Galur, Kokap, dan Panjatan masing-masing 5 kasus, Lendah 15 kasus, Pengasih 9 kasus, dan Wates 16 kasus.
"Walau hampir seratus masih terkendali, karena tingkat kesembuhannya cukup tinggi," ucap Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo Yuriati Senin (9/2).
Sebab dari 91 kasus, lanjutnya, 48 di antaranya dinyatakan sembuh tanpa ada kematian. Sedangkan sisanya masih proses penyembuhan dengan perkembangan positif.
Dari beragam temuan kasus PMK, Dispertapa Kulon Progo menganalisis penyebab terjangkitnya hewan ternak. Berbeda dengan tahun sebelumnya, persebaran kasus PMK disebabkan arus lalu lintas hewan ternak lokal DIY. "Kalau dari luar DIY, arus lalu lintasnya belum terlalu banyak," ujarnya.
Rentetan persebaran dicontohkan dalam satu peternakan terdapat satu sapi terjangkit PMK tanpa ada gejala. Sapi tersebut lantas dibawa ke pasar hewan untuk dijual atau ditawarkan. Hal ini meningkatkan potensi penyebaran PMK. Lantaran, sapi di dekat hewan terjangkit akan tertular. Saat dibawa pulang, akan menjangkiti sapi lainnya.
Persebaran PMK juga dipicu dengan arus lalu lintas hewan ternak yang meningkat jelang Ramadan. Mengingat kebutuhan daging sapi melonjak. Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut hingga jelang Idul Adha.
Sementara itu, Ketua Kelompok Ternak Ngudi Makmur Bendungan Subarman menjelaskan, PMK sempat merebak di kelompok ternaknya. Penyebabnya, diduga berasal dari hewan ternak yang sempat menginap di kandang kelompok. "Ini sekarang sudah pulih semua," ungkapnya. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita