Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani Nanggulan Bakal Miliki Klinik Pertanian

Administrator • Jumat, 5 Desember 2014 | 09:13 WIB
Photo
Photo
HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
SEMANGAT: Suasana dialog dalam gelar Teknologi Kecamatan PHT di Dusun Bejaten, Desa Jatisarono, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo
KULONPROGO - Kulonprogo berhak bangga dengan semangat para petani di Kecamatan Nanggulan yang telah berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional. Keberhasilan itu tidak terlepas dari kegigihan dan konsentrasi petani di Nanggulan terhadap gerakan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Hal itu diungkapkan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dihadapan petani, penyuluh pertanian, dan masyarakat Dusun Bejaten, Jatisarono, Nanggulan dalam gelar teknologi kecamatan PHT, Rabu (3/12) lalu. "Saya juga sangat senang dengan usaha petani menggunakan pestisida organik. Karena lebih ramah lingkungan dan efisien di-bandingkan pestisida sintetis," ungkapnya.
Menurut Hasto dengan modal yang tak semahal pestisida sintetis, penanggulangan secara alami atau biologis bisa mening-katkan efisiensi produksi. Dengan begitu petani bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak.Bupati Hasto berharap tidak hanya proses produksi yang diperhatikan, tetapi juga proses pengolahan pascapanen terutama untuk beras organik. Beras premium seperti melati menoreh (menur) ternyata tidak kalah dengan beras premium impor luar negeri. "Saya menggadang Nanggulan bisa memenuhi kebutuhan beras premium ini," harapnya.
Bupati Hasto juga berencana memberi-kan bantuan untuk membangun klinik pertanian di Nanggulan yang diberi nama Klinik Prima. Klinik ini diproyeksikan untuk memperkuat kelembagaan PHT Nanggulan, sebagai upaya meningkatkan pengetahuan petani atau petugas dalam mengidentifikasi tanaman. Bupati menyatakan pemkab akan mem-bantu proses pembangunan Klinik Prima kendati tidak mewah, namun dipastikan bersih dan baik. Pengajuan anggaran masih memungkinkan dilakukan di anggaran perubahan jika biayanya tidak terlalu besar. "Saya meminta dinas mencatat sebelum diusulkan di APBD Perubahan tahun 2015. Kelompok tani juga perlu membuat dan mengajukan proposal klinik pertanian tersebut," katanya.
Seperti diketahui, kecamatan Nanggulan merupakan satu-satunya kecamatan yang dijuluki kecamatan PHT. Terlebih sejak 29 November 2013 sudah memiliki deklarasi Kecamatan Nanggulan sebagai Kecamatan PHT. Terdapat 55 kelompok tani dari total 64 kelompok yang sudah mengikuti sekolah lapang PHT (SLPHT). Sebagian besar kelompok tani juga telah menerapkan teknologi dalam penaggulangan hama dengan teknologi sederhana. Seperti pe-manfaatan burung hantu, tanaman refugia, klinik pertanian dan sebagainya. Camat Nanggulan Jazil Ambar Was’an men-jelaskan sistem PHT memiliki keuntungan antara lain mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Disamping itu, juga bebas pestisida sintetis. "Dengan penerapan teknologi seder-hana, proses pembasmian hama tidak me-rusak jaring kehidupan atau rantai makanan di lahan sawah," jelasnya.Ketua Kecamatan PHT Nanggulan Jemingin menuturkan gelar teknologi kali ini sangat baik sebagai media bagi petani bertukar pengalaman dan informasi. Sekaligus bisa digunakan untuk menyebarluaskan kegiatan PHT Nanggulan dan strategi penanggulangan OPT serta memperkuat jaringan petani. "Gelar teknologi ini juga merupakan tindak lanjut deklarasi kecamatan PHT tahun lalu. Ditambahkannya di Nanggulan ada 25 pemandu petani yang siap mem-beri bimbingan dan penjelasan terhadap permasalahan yang dihadapi petani serta memiliki pengolahan pupuk organik," tu-turnya. (tom/ila/ong) Editor : Administrator