Lantaran, salah satu visinya berupa gerakan ekonomi melalui sektor pertanian. Salah satu programnya berupa revitalisasi tanaman kopi.
"Pemkab berhasil mengakses bantuan 50 ribu bibit kopi, dua ribu bibit kopi arabika telah disalurkan hari ini," ungkap Agung, Rabu (21/1/2026).
Agung menjelaskan, kopi Perbukitan Menoreh pernah mencapai masa kejayaan. Pasalnya, komoditas kopi telah dikenal masyarakat sejak masa penjajahan Belanda dengan jenis kopi liberika.
Namun, mengalami penyusutan akibat produktivitas tanaman kopi mengalami penurunan.
Bantuan bibit kopi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas. Pasalnya, pohon kopi di Kulon Progo telah berumur puluhan tahun. Perlu regenerasi tanaman agar produktivitas terjaga.
Tentu, bantuan bibit kopi menyasar kelompok tani yang telah dikenal ulung dalam menggarap pertanian.
Sehingga, bantuan tidak sia-sia, sekaligus memberikan manfaat berupa tambahan penghasilan bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Marsudi Rahayu Theodolus Supino menyampaikan, pihaknya menerima dua ribu bibjt yang akan ditanam di lahan hamparan seluas dua hekatare.
Pihaknya tak menyangka akan mendapatkan bibit kopi arabika dengan kualitas unggul.
"Ini jadi harapan baru kami, awalnya kami ragu karena faktor ketinggian untuk tanaman kopi," ungkapnya.
Selama beberapa tahun terakhir peternakan kambing PE mulai kehilangan masa kejayaan, kibat harga kambing yang tak stabil. Alhasil, kelompok tani ini mulai melirik pertanian kopi.
Sempat ragu dengan ketinggian, petani setempat memulai membudiayakan kopi dan berhasil panen. Kondisi itu mendorong kelompok tani menggarap pertanian kopi.
Terlebih selama setahun terakhir pendampingan dari kementerian pada pertanian kopi semakin meyakinkan pihaknya. (gas)