Pemilik rumah Reman mengaku, kejadian longsor terjadi sekitar pukul 23.00 WIB, Jumat (26/12). Longsor besar kemudian berlanjut pada Sabtu (27/12) dini hari.
"Dari sore sudah hujan lebat dan mati listrik, jadi ditinggal tidur," ucap Reman, saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Minggu (28/12).
Hujan dan listrik padam membuat keluarganya menetap di dalam rumah. Reman sempat terbangun sekitar pukul 23.00 WIB.
Saat itu, terdapat bunyi pohon tumbang cukup keras di sisi samping rumahnya yang berbatasan dengan dinding.
Tak berselang lama, suara gemuruh tanah terdengar dari arah tebing. Kondisi itu, terus berlanjut hingga dinding rumahnya yang terbuat dari gebyok dihantam cukup keras oleh material longsor.
"Yang pertama ada bunyi keras bambu roboh dan dilanjut dengan gebyok jebol," ungkapnya.
Mendengar suara keras itu, keluarganya langsung memeriksa sumber suara. Ditemukan, dinding gebyok di ruang tamu telah dijebol material longsor.
Material yang berasal dari tebing setinggi 20 meter dan lebar sepanjang 15 meter, tak hanya menjebol dinding. Melainkan material menutup jalan lingkungan yang bersebelahan dengan tebing.
Keluarganya khawatir dengan longsor, karena terdapat material susulan dari tebing. Alhasil, keluarganya memilih tetap tinggal di dalam rumah, namun jauh dari tebing.
"Sudah ada kerja bakti dari warga, untungnya nggak terlalu parah karena sempat ditebangi sebelumnya," ungkapnya.
Kendati rumahnya rusak, Reman masih bisa bersyukur. Lantaran, upaya mitigasi bencana telah dilakukan sejak sebulan lalu. November lalu, keluarganya melihat retakan tanah di tebing. Potensi longsor terlihat, keluarganya lantas menebang pohon bambu yang berpotensi merusak rumah lebih luas. (gas)
Editor : Bahana.