KULON PROGO - Capaian retribusi pasar di Kulon Progo pada 2024 tak sesuai target.
Dari target retribusi pasar Rp 1,85 miliar, hanya terealisasi Rp 1,75 miliar.
Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kulon Progo menyebut, melesetnya target akibat deflasi.
Sedangkan, pedagang mengaku kucing-kucingan dengan petugas penarik retribusi.
Sekretaris Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kulon Progo Rohedy Goenoeng mengatakan, meskipun target perolehan retribusi pada 2024 selisih Rp 100 juta, namun capaiannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2023.
"Ada peningkatan dari Rp 1,3 miliar pada 2023 menjadi Rp 1,75 miliar," sebut Goenoeng saat ditemui Radar Jogja dalam kegiatan pemantauan pasar, Jumat (3/1/2025).
Menurutnya turunnya capaian restribusi salah satunya disebabkan deflasi.
Deflasi membuat pasar sepi, lantaran, daya beli masyarakat menurun dan komoditas yang dijual di pasar tak banyak di beli.
Hal ini berimbas pada penurunan tingkat kunjungan.
Dampak domino dari deflasi kemudian dirasakan pedagang.
Pasar yang sepi membuat pedagang mengeluhkan omset penjualan yang turun drastis. Akhirnya, pedagang terpaksa menutup kios atau los miliknya.
Hal inilah yang menurunkan perolehan retribusi pasar karena banyak kios tutup.
"Di tahun 2025 naik dua kali lipat targetnya, jadi kami mengusahakan beberapa cara untuk mengoptimalkan retribusi," ujarnya.
Pada 2025 ini target retribusi bakal naik dua kali lipat, sebanyak Rp 3,3 miliar.
Goenoeng menyampaikan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah agar retribusi dapat sesuai target.
Di tahun 2025, pihaknya berusaha mengaktifkan pasar hingga 24 jam.
Upaya ini diwujudkan dengan mendorong dan menata pasar sebagai pusat kuliner di malam hari.
Pihaknya mengklaim, melalui kegiatan tersebut dapat menarik kunjungan masyarakat ke pasar.
Efek berlanjut dapat menghidupkan dan menggerakkan aktivitas ekonomi di pasar.
Selain itu, Disdagin berencana menggandeng sejumlah OPD untuk melakukan pengkajian kolaborasi untuk mengaktifkan pasar.
Tak sesuai target retribusi ini, sebenarnya telah diprediksi Pedagang Pasar Wates Jaimalis. Lantaran, kondisi pasar di Kulon Progo sedang tidak baik-baik saja.
Banyak pasar yang mengalami mati suri, akibat sepi dan retribusi yang mencekik.
"Lho pasar sekarang sepi, pedagang lebih memilih tutup daripada bayar retribusi," ucapnya.
Jaimalis menyampaikan, pedagang juga kucing-kucingan dengan petugas penarik retribusi.
Lantaran, pedagang justru tak mendapatkan penjualan yang dapat menutup operasional kios, termasuk dalam membayar retribusi. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva