Stand Penyalur Tenaga di Luar Negeri Kerja Diserbu Pencaker

KULON PROGO - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kulon Progo menggelar job fair. Ada puluhan stand perusahaan yang menawarkan berbagai lowongan pekerjaan dalam gelaran yang dihelat mulai tanggal 27 Oktober hingga 28 Oktober di Taman Budaya Kulon Progo itu. Namun, stand lembaga penyalur tenaga kerja ke luar negeri lebih ramai dibanding lainnya. Banyak pencari pekerja (pencaker) yang berjubel mencari informasi. Salah satunya Yulida Cahya.
Perempuan berusia 32 tahun ini sengaja datang ke job fair hanya untuk mencari informasi seputar pekerjaan di luar negeri. Dengan harapan lulusan D1 seni tari ini bisa memperbaiki nasib di negeri orang.
Baca Juga: 64 Kasus dan Tujuh Kematian Akibat Leptospirosis, Petani Kulon Progo Jadi Kelompok Paling Rentan
”Dalam beberapa bulan terakhir sudah meng-apply beberapa lamaran. Tapi, tak pernah mendapat panggilan dari perusahaan,” tutur perempuan yang tinggal di Kapanewon Wates ini saat ditemui di salah satu stand lembaga penyalur kerja, Selasa(27/10).
Di usianya yang tak lagi muda, Yulida merasa kesulitan mencari pekerjaan. Meski, Yulida punya pengalaman kerja yang cukup banyak. Dia pernah bekerja menjadi waiters, admin, hingga guru. Karena itu pula, Yulida tidak mencari posisi pekerjaan yang muluk-muluk di job fair. Dia mengincar pekerjaan sebagai waiters di Malaysia. Sesuai dengan pengalaman dan kemampuannya.
”Apa pun pekerjaannya sebenarnya tidak masalah,” ucapnya.
Kenapa harus ke Negeri Jiran? Perempuan dua anak ini mengungkapkan, gaji di Indonesia relatif kecil. Terutama di DIJ. Berdasar data, upah minimum kabupaten/kota (UMK) Kulon Progo hanya sekitar Rp 2,5 juta. Angka ini tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi, membiayai pendidikan kedua anaknya hingga ke perguruan tinggi.
”Membesarkan anak butuh biaya besar,” ujarnya.
Deviana Putri mengeluhkan hal serupa. Perempuan yang tinggal di Kapanewon Sentolo ini juga mengincar lowongan pekerjaan di Malaysia.
Berbeda dengan Yulida, Deviana sehari-hari bekerja di salah satu pabrik. Dengan gaji sekitar Rp 2,5 juta.
”Gaji di sini kurang. Nggak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Makanya mencari loker (lowongan pekerjaan) di luar negeri,” katanya.
Baca Juga: Merajut Asa Jadi Barista, Siswa SKB Kota Jogja Antusias Ikuti Pelatihan Kopi
Dengan pengalaman sebagai karyawan di perusahaan manufaktur, Deviana ingin mencari lowongan pekerjaan di pabrik elektronik. Dengan harapan gajinya kelak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.
”Lebih baik ke luar negeri karena gajinya lebih layak,” tuturnya. (gas/zam)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




