RADAR JOGJA – Memasuki musim penghujan seperti saat ini, masyarakat sudah sepatutnya waspada terhadap potensi penyakit yang datang. Di Kulonprogo, demam berdarah dengue (DBD) dan leptospirosis merupakan jenis penyakit yang cukup jadi ancaman bagi sebagian besar wilayah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo Rina Nuryati menyatakan, dari hasil catatan pihaknya, temuan penyakit leptospirosis dan DBD di Kulonprogo memang terbilang cukup tinggi. Pada tahun 2020 saja untuk kasus DBD mencapai 1.178 kasus, sementara leptospirosis tercatat ada 34 kasus.

Tahun ini, hingga November Dinkes Kulonprogo mencatat temuan kasus DBD mencapai 685 kasus dan leptospirosis sepuluh kasus. Meski ada penurunan, Rina meminta masyarakat untuk selalu waspada terhadap kedua penyakit tersebut. Pasalnya potensi penularan kedua pemain penyakit itu meningkat seiring tingginya curah hujan seperti saat ini.

“Untuk sekarang masyarakat harus mulai melakukan perilaku hidup bersih dan sehat, kemudian rutin melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dan menjaga stamina tubuh agar tidak mudah sakit. Khususnya agar tidak terkena penyakit DBD dan leptospirosis,” ujar Rina saat dikonfirmasi, kemarin (9/11).

Sementara untuk temuan kasusnya, ia menyatakan DBD merupakan penyakit yang cukup mengancam wilayah perkotaan. Sebab, temuan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti tersebut banyak terjadi di daerah urban seperti Wates, Nanggulan dan Pengasih.

Kemudian untuk leptospirosis, penyakit yang disebarkan oleh tikus itu tersebar di beberapa wilayah. Dari sepuluh kasus yang terjadi di tahun 2021, temuan kasusnya ada di kapanewon Kokap, Pengasih, Panjatan, Lendah Wates, Girimulyo dan Nanggulan. “Sehingga kami meminta masyarakat untuk waspada,” himbau Rina.

Terkait dengan upaya pencegahan DBD, Sekertaris Dinas Kesehatan Kulonprogo Baning Rahayujati menyatakan, pada tahun ini pihaknya mengaktifkan kembali program juru pemantau jentik (jumantik). Progam tersebut akan lebih digiatkan lagi pada tingkat RT hingga rumah-rumah.
“Harapannya dengan kembali aktifnya program jumantik, kasus demam berdarah di Kulonprogo bisa menurun,” tutur mantan Kepala Bidang P2P Dinkes Kulonprogo ini. (inu/bah)

Kulonprogo