RADAR JOGJA – Banyak laporan miring mengenai kondisi fasilitas olah raga Stadion Cangkring, GOR dan Lapangan Tenis yang berada di Desa Temonan, Giri Peni, Wates, Kabupaten Kulonprogo, membuat legislatif gerah. Untuk membuktikan keluhan tersebut, dewan melalui Komisi IV DPRD Kulonprogo melakukan monitoring ke kawasan Stadion Cangkring, kemarin (13/10).

Dalam monitoring atau biasa disebut dengan Sidak (Inspeksi Mendadak) yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut, Komisi IV DPRD Kulonprogo menemukan banyak kerusakan. Seperti pada Stadion Cangkring, rombongan Komisi IV yang terdiri dari Istana, S.H., M.I.P (Ketua), Suharto (Wakil Ketua), Tito Kurniawan (Sekretaris), Muhtarom Asrori (Anggota), Ida Ristanti (Anggota), Tukijan (Anggota), Nasib Wardoyo (Anggota), Ratna Purwaningsih (Anggota), dan Agung Raharja (Anggota), menemukan kerusakan pada atap tribun utama, banyaknya bebatuan di jalur lintasan lari, adanya resapan air (ditutup seng) yang berada di dalam garis lapangan sepakbola, lapisan lapangan sepakbola diduga menggunakan pasir laut sehingga tidak bisa ditumbuhi rumput.

“Benar yang dikeluhkan masyarakat, keadaan Stadion Cangkring ini memprihatinkan. Sehingga stadion ini belum layak untuk menyelenggarakan kegiatan olah raga yang semestinya,” kata Istana di sela monitoring di Stadion Cangkring, Selasa (13/10).

Dari Stadion Cangkring, Komisi IV geser sidak ke GOR. Di sini, Komisi IV DPRD menemukan kerusakan pada lantai GOR yang sudah retak-retak. Sebagian plafon yang rusak. Serta penempatan atap GOR yang tidak pas. Sehingga jika turun hujan terjadi tampias, dan kalau musim angin, angin bertiup kencang masuk ke GOR.

“GOR ini dibangun dengan anggaran yang tidak sedikit, lebih dari Rp 12 miliar, namun kondisinya sudah demikian. Ini harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya pada dinas yang membidangi (Disdikpora),” kata Istana.

Hal yang lebih parah terjadi pada lapangan tenis. Lapangan tenis yang dibangun sejak zaman kepemimpinan Bupati Toyo S Dipo itu, saat ini kondisinya rusak parah. Pagar besi yang ada di kanan kiri lapangan roboh dan jadi rongsok. “Ini tampaknya memang tidak dirawat, dan dibiarkan rusak. Sungguh ironis dan eman-eman, aset olah raga sebagus ini dibiarkan rusak dan mangkrak,” tutur Istana.

Anggota Komisi IV DPRD Kulonprogo yang membidangi kepemudaan dan olah raga, Muhtarom Asrori menambahkan, adanya temuan-temuan di lapangan tersebut, membuktikan perawatan dan pengawasan terhadap aset Pemkab Kulonprogo, khususnya aset olah raga belum baik. “Jika pengawasan dan perawatan aset di lingkungan pemerintah baik, tentu kondisi stadion, GOR dan lapangan tenis ini tidak seperti ini,” kata Tarom, panggilan akrab Muhtarom Asrori.

Di tempat yang sama, Rusdi, perwakilan dari Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kulonprogo yang menerima rombongan monitoring Komisis IV DPRD Kulonprogo menuturkan, berbagai kerusakan dan kekurangan yang ada pada fasilitas olah raga ini sudah dianggarakan perbaikannya pada 2021. Namun khusus lapangan tenis yang rusak parah, belum masuk pada penganggaran karena belum diketahui kepemilikannya.

“Khusus lapangan tenis ini, kami tidak tahu menahu tentang kepemilikannya. Karena sejauh ini tidak ada penyerahterimaan tentang asset berupa lapangan tenis tersebut,” kata Rusdi.  (*/jko)

Kulonprogo