RADAR JOGJA – Pelbagai cara dilakukan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi imbas pandemi Covid-19. Salah satunya seperti yang dilakukan Sri Puji Astuti di Dusun Karangwuluh Lor, Kalurahan Karangwuluh, Kapanewon Temon, Kulonprogo. Ia memproduksi Sego Berkat.

Ya, berdiam diri menanti pandemi usai tentu bukan menjadi pilihan yang tepat. Tantangan zaman ini harus dijawab dengan kreativitas dan inovasi. Tekad kuat itu yang tersimak dari Sri, sapaan akrab Sri Puji Astuti.

Perintis stik growol yang sempat moncer sebelum pandemi itu, kini mulai sibuk melayani pelanggan. Menu makan yang disajikan juga terbilang unik, dikenal dengan nama sego berkat.

Sego berkat merupakan nasi bungkus dengan beragam lauk pauk yang biasa disajikan saat hajatan masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan DIJ. Makanan ini biasanya dikemas dengan daun jati atau daun pisang dan dimasukkan ke dalam besek.

“Saya dulu memproduksi stik growol yang saya beri nama Goku. Sebelum pandemi sudah mampu menembus pasar di beberapa daerah. Goku bahkan sempat nangkring di sejumlah toko berjejaring Tomira,”  katanya kepada Radar Jogja Kamis (8/10).

INOVASI: Dapur sego berkat yang sudah mulai dibanjiri pesanan.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)

Namun sejak pandemi Covid-19, penjualan Goku seret. Sri bahkan harus menurunkan kuantitas produksi akibat minimnya permintaan. Kondisi memaksanya untuk memutar otak mencari ide usaha lain. “Saya mikir, bagaimana ada pemasukan lagi, setidaknya agar usaha stik growol tetap jalan, akhirnya muncul ide buat Sego Berkat. Menyesuaikan tren masyarakat untuk makanan higienis menghindari paparan virus,”  ucapnya.

Dijelaskan, Juni 2020 menjadi titik awal Sego Berkat. Mengajak warga sekitar yang mayoritas ibu-ibu, Sri awalnya membuat sampel sego berkat berisi nasi rasul (gurih), sayur tholo, oseng pepaya, gudeg, mi, srundeng kelapa, tahu dan tempe bacem, suwiran ayam kampung dan peyek.

Makanan ini dikemas dengan cara dibungkus daun jati, kemudian dimasukkan ke dalam besek. “Ya seperti pada umumnya hidangkan khas kampung, sego berkat ini kalau di desa biasanya untuk hantaran atau hidangan ketika hajatan,” jelasnya.

Bingkisan sego berkat itu kemudian dibagikan cuma-cuma kepada rekan-rekannya untuk dicicipi. Alhasil, responnya positif, dari semula nyicip, banyak yang mulai ketagihan dan pesan.

Seiring berjalannya waktu, pesanan semakin banyak. Tidak hanya datang dari rekan-rekan, tapi juga kalangan pemerintahan dan sekolah. Promosi mulai digencarkan lewat sosial media. “Alhamdulillah yang pesan sekarang tidak hanya perorangan, tapi juga instansi dan ada sekolah di Kulonprogo dan Purworejo,” ucapnya seraya bersyukur.

Diungkapkan, tidak hanya mampu menggeliatkan ekonomi keluarga, Sri kini bahkan mampu mempekerjakan 18 karyawan yang dengan memproduksi 400 pesanan dalam sehari. Jumlah itu belum termasuk konsumen yang makan langsung di tempat.

Sri memberi layanan makan di tempat dan banyak pegawai dan karyawan mampir pas jam makan siang. “Warung sekaligus rumah produksi kami kebetulan berada tepat di depan pintu masuk bandara YIA, jadi banyak karyawan, bahkan sopir travel yang datang dan mampir untuk makan di sini,” ungkapnya.

Sego berkat itu diberi nama Sego Berkat Pare Anom Bu SPA. Harganya terbilang cukup murah, cukup merogoh kocek Rp7 ribu per porsi. Jika ingin tambah lauk telur atau suwiran ayam yang lebih banyak, harganya Rp11 ribu – Rp 12 ribu per porsi.

“Hidangan kami bisa dipastikan sehat, kami bahkan tidak menggunakan MSG, menjaga cita rasa kami memasaknya juga menggunakan tungku kayu,” ucapnya.

Salah seorang pelanggan, Shafira, 20, warga Lendah mengatakan, kali pertama mencoba sego berkat bikinan Sri mengaku ketagihan. Menurutnya, rasa gurih nasinya pas, lauk pauk yang tersaji juga unik.

“Ini masuk menu kuliner tradisional yang saya bilang sangat komplet dan enak. Harganya murah, dan yang penting bersih dan aman. Saya sudah beberapa kali ke sini,” katanya. (tom/laz)

Kulonprogo