RADAR JOGJA – Budidaya cabai di Kapanewon Panjatan dilirik Bank Indonesia. Cabai dinilai sebagai komoditas yang cukup signifikan mempengaruhi inflasi, sementara Kulonprogo sejauh ini menjadi sentra komoditas cabai yang cukup diperhitungkan di tingkat nasional.

“Produksi cabai Kulonprogo rata-rata mencapai 55 ribu ton per tahun, dan kebanyakan terjual ke luar daerah seperti Jakarta dan daerah lainya,” kata Bupati Kulonprogo, Sutedjo saat menemani tim dari Bank Indonesia Cabang DIJ di Kelompok Tani Fisik Pranaji di Kapanewon Panjatan, Rabu (22/7).

MELIMPAH: Bupati Kulonprogo Sutedjo didampingi Kepala Perwakilan BI DIJ, Hilman Tisnawan saat panen raya cabai di Kelompok Tani Fisik Pranaji Panjatan,( HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)

Dijelaskan, upaya pemkab untuk menjaga stabilitas harga cabai yang cukup fluktuatif dengan cara mewajibkan ASN untuk membeli cabai dari Kulonprogo dalam progam Bela Beli Kulonprogo yang telah lama digaungkan. “Saat produksi melimpah dan penawaran rendah, kami mewajibkan ASN untuk membeli dengan harga yang lebih tinggi dari biasanya. Harga cabai saat ini sudah bagus Rp 10.600 per kilogram, sudah di atas BEP,” jelasnya.

Kepala Perwakilan BI DIJ, Hilman Tisnawan menyatakan, pihaknya ingin mengetahui data statistik harga cabai untuk melakukan pendampingan kepada petani. Khususnya saat fluktuasi harga cabai tinggi. “Kalau untuk kebutuhan DIJ sendiri saya yakin lebih dari cukup, sehingga sebagian besar produksi cabai harus dikirim ke luar daerah,” ucapnya.

Menurutnya, ketika panen raya BI bersama petani bisa melakukan hilirisasi, seperti yang sudah dilakukan di Mlati, Sleman. “Petani disana cukup bergairah karena pembelinya juga banyak,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Fisik Pranaji, Karman mengungkapkan, hasil produksi cabai di kelompoknya bisa mencapai 22 ton dalam semusim (5 bulan). Jumlahnya kini juga terus bertambah seiring penambahan lahan.

“Hasil produksinya juga terus meningkat, jika dulu satu kelompok hanya 3-4 ton per hari, sekarang naik menjadi 6-7 ton per hari dengan luas lahan sepertiga dari total luas lahan yang ada dan sisanya dua pertiga untuk budidaya buah melon,” ungkapnya.

Diharapkan, harga cabai tetap stabil dan bisa dikeringkan untuk tunda jual. Dengan pemasaran yang bagus, kapasitas baru 350 per kali pengeringan. “Hanya sekala kelompok nanti kalau sedianya berhasil memaafkan mungkin akan dibuatkan pengering cabai,” harapnya. (tom/bah)

Kulonprogo