RADAR JOGJA – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) memiliki tingkat penularan yang cukup cepat. Mirip Covid-19, hewan ternak yang terpapar juga harus menjalani isolasi. Peternak dan pedagang sapi kurban punya cara untuk mempercepat pemulihan ternak yang terkena PMK. Yakni dikarantina di Laguna Pantai Glagah.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo, Radar Jogja

ADA yang berbeda di Laguna Pantai Glagah, Temon. Tanah lapang dengan hijau rerumputan di bawah tegakan pohon itu terdapat beberapa ekor sapi yang belakangan diketahui tengah menjalani proses karantina karena terpapar penyakit mulut dan kukuk (PMK).

Sapi-sapi yang tengah menjalani perawatan intensif itu sengaja ditempatkan di titik-titik ruang terbuka, menghirup udara pantai yang mengandung garam, dan bermandikan terik matahari yang menyehatkan. Laiknya manusia melakukan terapi, mereka juga kadang diajak berjalan-jalan oleh pemiliknya. Pemilik merawat dan meningkatkan kebugaran ternaknya.

Laguna Pantai Glagah dipilih juga karena pasokan pakan yang melimpah, padang rumput yang tumbuh subur karena kerap diguyur hujan itu menjadi makanan lezat nan sehat bagi para sapi. Satu, dua, tiga ekor sapi seperti dimanjakan, berangsur membaik dan sehat.

Salah satu peternak sekaligus pedagang sapi kurban, Agus Pramono, 55, warga Glagah mengatakan, ia memang sengaja memilih laguna untuk lokasi karantina karena jauh dari kandang. Jelang Idul Adha, saat peternak dan pedagang sapi kurban menemukan momentum untuk mencari keuntungan, kini justru berada di posisi yang sulit. “Kami tidak berani memasok banyak, sapi yang terpapar PMK tidak laku. Upaya yang bisa dilakukan menyediakan hewan kurban jelang pelaksanaan. Kurban 9 Juli, kami janjikan 30 Juni agar tidak risiko PMK,” ucapnya, Selasa (21/6).

Dijelaskan, menjelang kurban, ia memiliki pasokan hewan kurban sebanyak 15 ekor sapi. Enam di antaranya sudah laku terjual. Ia juga mengaku kesulitan untuk mendatangkan pasokan hewan kurban di daerah lain. Lalu lintas ternak masih tersendat, banyak pasar hewan yang ditutup.”Pasar di Gunungkidul dan Muntilan masih tutup. Yang masih buka hanya Pasar Legi dan Pahing di Ambarketawang, Sleman namun barangnya juga tidak banyak,” jelasnya.

Menurutnya, teman jaringan pedagang sapi kurban di Jawa Barat juga mengeluhkan hal senada, “Pernah satu teman mencoba mengirim sapi sehat, di perjalanan kecapekan dan sampai di lokasi divonis PMK, akhirnya ditolak,” ujarnya.

Menghadapi kondisi tersebut, ia memilih untuk menjual sapi kurban yang ada. Jika ada pesanan yang harus dipenuhi terpaksa harus mencari sapi lokal Kulonprogo. Masuk ke kampung-kampung dengan jumlah yang tidak banyak dan sedikit pilihan. “Cari sapi kurban kini harus berburu, harus telaten mencari dari kampung ke kampung. Harganya juga naik di kisaran Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per ekor,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kulonprogo, Aris Nugroho menjelaskan, berdasarkan data terakhir, tercatat ada 514 hewan ternak yang terjangkit PMK di Kulonprogo. Sebanyak 171 ekor berhasil sembuh, sementara 342 ekor lainnya masih menjalani isolasi.

Pihaknya juga masih menyusun surat edaran (SE) bupati terkait penyelenggaraan kurban di masa wabah PMK dan pandemi Covid-19. Banyak usulan yang masuk terkait teknis pengadaan dan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.”Kami melibatkan dokter hewan dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM serta tim di tingkat desa. Mereka akan memonitor mulai tempat penampungan. Skrining awal hingga proses dropping ke lokasi penyembelihan,” ucapnya. (din)

Kulonprogo