RADAR JOGJA – Batik adalah kebanggaan Indonesia. UNESCO bahkan telah menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi pada 2 Oktober 2009 silam. Di Kulonprogo, salah satu sentra kerajinan batik berada di Dusun Sembungan, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah.

Pandemi Covid-19 menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi industri rumahan ini. Tidak sedikit pengusaha yang terpaksa mengurangi atau merumahkan karyawan (pembatik) untuk menekan biaya produksi. Namun kini kondisinya sudah mulai membaik, para pembatik sudah kembali membatik. Sanggar Sembung juga mulai dikunjungi wisatawan dan pelajar yang ingin melihat dan belajar membatik secara langsung.

Pemilik Sembung Batik, Bayu Permadi mengatakan mendirikan Sanggar Sembung agar lebih mudah bagi siapa saja untuk mencintai batik. Beberapa kali sanggar mendapat kepercayaan sebagai salah satu tempat workshop bidang batik.

Ia mengaku ingin menanamkan rasa cinta batik kepada anak-anak khususnya, mulai dari batik cap yang sederhana hingga batik tulis yang lebih rumit dan membutuhkan ketelatenan. “Untuk anak-anak biasanya saya ajak ke batik cap, mulai dari proses pewarnaan sampai akhir, lebih mudah dan tidak begitu rumit bagi mereka,” ucapnya, kemarin (17/6).

Kepala TK ABA Ledok II, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Irnawati mengatakan, anak-anak perlu mengenal budaya lokal, maka mereka dikenalkan dengan batik. “Ini kegiatan outing class, mereka kami bawa ke sanggar sembung batik yang kebetulan memang berada di Desa Sidorejo, tempat mereka tinggal. Sudah semestinya mereka ini adalah pewaris budaya batik yang sudah ditekuni oleh orang tua dan leluhur mereka di sini,” ucapnya.

Menurutnya, anak-anak dengan suka cita mengenal kegiatan membatik. Pihaknya bekerjasama dengan Batik Sembung untuk melihat secara langsung proses membatik sekaligus praktek secara langsung. Harapannya ke depan, anak-anak tidak kehilangan budaya lokal, tidak tercerabut jati dirinya sebagai wilayah penghasil batik yang berkualitas di Kulonprogo.

“Lihat, mereka antusias sekali, berinteraksi langsung dengan perjin, mereka akan menjadi generasi penerus bangsa yang tidak kehilangan akar budaya. Tidak mudah tergerus zaman, ditelan perkembangan teknologi yang super pesat dengan kehadiran gadget dan aplikasinya yang tidak semua berdampak positif,” ujarnya.

Peserta outing class, Rian Sanjaya, yang juga siswa TK ABA Ledok II, mengungkapkan tertarik sekali ingin belajar membatik. “Senang, kain dicap kemudian diwarnai. Sebelumnya pernah membatik, mudah kok,” ungkapnya. (tom/bah)

Kulonprogo