RADAR JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat setidaknya ada tujuh Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini bencana tsunami yang rusak. Saat ini, instansi tersebut tengah mengajukan permohonan perbaikan kepada pemerintah di tingkat provinsi.

Kepala BPBD Kulonprogo Joko Satyo Agus Nahrowi mengatakan, total ada tujuh dari delapan EWS milik BPBD Kulonprogo yang kini rusak atau tidak berfungsi sama sekali. Ketujuh alat sistem peringatan dini bencana tsunami yang rusak tersebut berada di pesisir pantai Kulonprogo. Kemudian untuk satu yang masih berfungsi kini kondisinya tidak terkoneksi dengan pusat pengendalian operasi (Pusdalops) BPBD Kulonprogo.”Untuk EWS tsunami kami punya tujuh dan itu rusak semua, ada satu yang masih berfungsi tetapi itu tidak terkoneksi dengan alat di Pusdalops. Saat ini kami tengah berupaya agar EWS itu bisa terkoneksi dengan alat kami,” ujar Joko saat dikonfirmasi, Minggu (21/11).

Terkait dengan tindak lanjut rusaknya tujuh EWS milik BPBD Kulonprogo itu, Joko menyatakan pihaknya telah memohon kepada BPBD DIJ agar bisa dilakukan perbaikan. Sehingga harapannya, alat deteksi dini bencana tsunami tersebut bisa berfungsi kembali. Pihaknya pun, lanjutnya, juga telah berkoordinasi dengan pihak-pihak seperti Yogyakarta International Airport (YIA) yang memiliki EWS mandiri. Agar ketika terjadi potensi bencana, BPBD Kulonprogo tetap mendapat pemberitahuan terhadap bencana dan melalukan upaya mitigasi.

Sementara untuk EWS tanah longsor, Joko menyatakan pihaknya memiliki beberapa alat untuk deteksi dini bencana yang berbasis server dan langsung terkoneksi dengan BPBD Kulonprogo sebanyak tiga alat. Ketiganya berada di tiga kapanewon yakni Kalibawang, Girimulyo serta Samigaluh masing-masing satu alat. Kemudian untuk EWS dengan sistem manual ada sebanyak 15 alat yang tersebar di beberapa wilayah rawan bencana.”Dengan adanya EWS ini harapannya masyarakat dan tim kami bisa menerima informasi potensi bencana dengan cepat, terlebih-lebih dengan adanya fenomena La Nina seperti saat ini,” ucapnya.

Lebih lanjut, terkait dengan fenomena La Nina saat ini, Joko juga menghimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang mungkin terjadi. Seperti bencana tanah longsor, banjir dan pohon tumbangPasalnya, dari hasil catatan BPBD Kulonprogo sudah ada beberapa bencana yang terjadi. Di antaranya bencana tanah longsor di Kapanewon Girimulyo sebanyak dua titik dan Pengasih dua titik.”Saat hujan deras yang mengguyur wilayah Kulonprogo beberapa waktu lalu, kami mencatat ada empat titik longsor. Beberapa diantaranya bahkan sempat menutup akses jalan,” terangnya.

Terpisah, Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan, terkait parsiapan mengahadapi La Nina ini setidaknya ada 297 personil personil gabungan yang disiagakan. Ratusan personil tersebut terdiri dari personil polisi, Basarnas, Satpol PP dan hingga unsur-unsur kemasyarakatan.Dikatakan Sutedjo, adanya fenomena La Nina memang berdampak pada meningkatnya curah hujan yang menaikkan potensi bencana hidrometeorologi. Seperti bencana banjir, tanah longsor, pohon tumbang serta angin kencang. Kondisi geografis kabupaten Kulonprogo yang merupakan daerah rawan bencana juga turut meningkatkan resiko dari bencana tersebut. Sehingga perlu persiapan sebelum bencana terjadi, termasuk personil dan upaya mitigasi. (inu/pra)

Kulonprogo