RADAR JOGJA – Fenomena hujan deras yang terus terjadi dalam beberapa terakhir ini cukup berdampak aktivitas pertanian. Khususnya aktifitas petani cabai di Kulonprogo, banyak petani di wilayah kapanewon Wates merugi lantaran lahannya terendam air.

Salah satu petani cabai di Bulak Cangkring Wates, Sumiatun,48 mengatakan, lahan cabainya tergenang air akibat diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir lahan. Dampaknya, banyak tanaman cabai yang mati padahal dalam waktu dekat ini akan panen.

Akibat dipanen dini, lanjut Sumiatun, hal tersebut juga membuat harga jual cabai miliknya anjlok. Apabila harga normal cabai hasil panen bisa berkisar Rp 27 ribu/kilogram, tetapi jika kualitasnya turun maka harganya anjlok sampai Rp 15 ribu/kilogram. Ia pun hanya bisa pasrah dengan keadaan itu.”Kalau dihitung kerugiannya bisa mencapai jutaan rupiah,” ungkap Sumiatun, Jumat(12/11).

Hal serupa juga dirasakan Widodo, petani lain di Bulak Sawah Cangkring, ia menyampaikan bahwa fenomena La Nina menjadi salah satu penyebab meningginya curah hujan. Padahal, jika tidak ada fenomena tersebut masa tanam cabai bisa dilakukan hingga Desember mendatang.

Terkait dengan tindak lanjutnya, Widodo mengaku akan merubah pola tanam cabai menjadi padi dalam waktu dekat ini. Hal tersebut guna mengantisipasi dampak kerugian semakin banyak karena fenomena La Nina. “Semestinya panen cabe masih bisa berlangsung hingga awal Desember mendatang. Namun karena dampak La Nina kami terpaksa merubah pola tanamnya ke padi,” ucap pria lima puluh tahun itu.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta, Dwikorita Karnawati mengatakan periode bulan November-Desember merupakan La Nina dengan kategori menengah. Kemudian pada bulan Januari-Februari La Nina akan memasuki puncaknya bebarengan dengan puncak musim penghujan.

Terkait dengan fenomena alam tersebut, Dwi meminta masyarakat untuk waspada terkait dengan berbagai kemungkinan perubahan cuaca yang akan terjadi. Sebab, diprediksi untuk La Nina tahun ini akan mengalami peningkatan curah hujan hingga 60 persen.

Ia mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap potensial bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir pada wilayah-wilayah yang rawan. Sementara untuk wilayah yang memiliki lahan pertanian diharapkan supaya petani mulai menyiapkan saluran irigasinya. “Mungkin masyarakat yang bekerja di sektor pertanian bisa mengalihkan irigasinya dari ke wilayah yang membutuhkan air, agar wilayah di Kulonprogo tidak mengalami kekurangan air,” saran Dwikorita. (inu/pra)

Kulonprogo