RADAR JOGJA – Kasus penularan Covid-19 di Kulonprogo terus mengalami penurunan. Hal itu pun berpengaruh terhadap keterisian shelter atau lokasi isolasi terpusat (isoter) pasien Covid-19 tingkat kabupaten di Rusunawa Giripeni. Tercatat hingga Senin (11/10) jumlah pasien yang dirawat di shelter tersebut hanya satu orang.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo Baning Rahayujati mengatakan, dari total kapasitas 192 kamar tidur di Rusunawa Giripeni hanya satu pasien berjenis kelamin perempuan yang menghuni selter tersebut. Pada Sabtu (9/10) lalu diketahui total ada tiga pasien yang menghuni Rusunawa Giripeni, namun dua orang telah menyelesaikan isolasi.

Kemudian untuk selter-selter yang tersebar di 12 kapanewon dengan kapasitas 637 kamar tidur, Baning menyatakan semuanya dalam kondisi kosong. Artinya, dari total 13 shelter Covid-19 di Kulonprogo hanya ada satu orang pasien saja yang kini ditangani isolasinya. “Dari total 161 shelter di kapanewon dan isoter dengan daya tampung 829 tempat tidur, hanya ada satu pasien yang dirawat. Yakni di Rusunawa Giripeni,” ujar Baning, kemarin (11/10).

Kemudian untuk penambahan kasus Covid-19 harian. Sekretaris Dinas Kesehatan Kulonprogo itu menyampaikan bahwa kasusnya juga landai dalam beberapa hari terakhir. Dari catatan gugus tugas, penambahannya hanya berkisar 5-10 kasus terkonfirmasi positif per hari.Terkait dengan terus melandainya kasus Covid-19 di Kulonprogo, Baning menyatakan bahwa hal itu terjadi seiring dengan terus dilakukannya percepatan vaksinasi. Dimana hingga Minggu (10/10) gugus tugas mencatat capaian vaksin dosis pertama di Kulonprogo telah menyentuh angka 77,20 persen.”Untuk jumlah sasaran yang sudah divaksin dosis pertama tercatat 264.587 orang,” terangnya.

Namun meski kasus terus melandai, Pemkab Kulonprogo memastikan belum akan menutup isoter Rusunawa Giripeni. Wakil Bupati Kulonprogo, Fajar Gegana menyatakan pihaknya tetap mempertahankan Rusunawa Giripeni sebagai titik penanganan pasien terkonfirmasi positif. Khususnya pasien yang mengalami gejala ringan hingga sedang.

Namun demikian, untuk nakes di Rusunawa Giripeni juga akan disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Mengingat jumlah pasien di shelter tersebut sedikit, maka tenaga kesehatan (nakes) akan dimaksimalkan pada program lain seperti percepatan vaksinasi dan pelayanan di fasyankes. Cara tersebut dinilai juga lebih efektif dari segi penanganan dan alokasi anggaran. “Ketentuan dari pusat memang meminta kami mempertahankan isoter sebagai lokasi penanganan pasien dengan gejala ringan hingga sedang. Supaya mereka dipisahkan sehingga tidak menyebarkan virus kepada keluarga dan lingkungannya,” ujar Fajar. (inu/pra)

Kulonprogo