RADAR JOGJA – Pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di sekolah mulai digelar 4 Oktober, kemarin. Namun khusus SMP diawali dengan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). PTMT pada umumnya baru akan digelar pada 8 Oktober mendatang.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas pendidikan (Disdik) Sleman Dwi Warni Yuli Astuti mengatakan, ANBK merupakan masa transisi digelarnya PTM. ANBK merupakan program dari pusat. Dilaksanakan selama empat hari. Mulai 4-7 Oktober. Nah, dari 16.633 peserta siswa kelas VIII. Sebanyak 6.140 siswa, terpilih mengikuti sampling. Berikutnya, sebanyak 568 siswa, sebagai cadangan bagi siswa yang terpilih sampling namun berhalangan hadir.

ANBK ini menjadi umpan balik sekolah. Sebagai pemetaan dan asesmen. Untuk mendaatkan data. Memperbaiki pengelolaan pendidikan dan proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Hasilnya, akan diberikan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam wujud rapor pendidikan di masing-masing sekolah. Output-nya, juga sebagai perbaikan karakter dan kompetensi anak dengan berbagai survei yang dilakukan. Lanjut dia, ANBK untuk mengukur kemampuan siswa dalam hal numerasi, literasi, survei karakter dan lingkungan belajar. ANBK tidak hanya dilakukan untuk siswa. Melainkan juga guru pendidik. ”Guru diminta mengisi survei lingkungan belajar,” ungkap Dwi, panggilan akrabnya, mendampingi Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa saat pemantauan ANBK di SMP N 1 Mlati, Sleman, kemarin (4/10).

Nah, usai ANBK dilangsungkan, berikutnya, baru PTMT digelar. Ada empat poin yang harus dipastikan. Yaitu, surat pernyataan kesiapan menggelar PTMT dari masing-masing satuan pendidikan (sekolah). Mengantongi ijin dari satgas kapanewon terkait. Baik sekolah maupun tenaga pendidikan (tendik) harus memenuhi standar protokol kesehatan (prokes). Terakhir, harus mendapatkan izin dari orang tua siswa.”Ini menjadi masa transisi (PTMT, red),” ujar harap Dwi.

Dalam kunjungan tersebut, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyampaikan, pelaksanaan ANBK di sekolah ini berjalan lancar. Prokes dijalankan ketat. Bahkan untuk ruang komputer juga ada penyekatan. Sehingga ini sangat aman. ”Terkait jaringan internet dari pantauan kami berjalan dengan lancar, tidak ada gangguan. Siswa dapat mengerjakan dengan tertib dan tanpa ada keluhan,” ujarnya.

Disinggung terkait PTMT, dikatakan, semua sekolah, dari total 119 sekolah negeri maupun swasta siap menggelar PTM. Secara identifikasi, sekolah sudah lolos untuk pembelajaran tatap muka. Namun diterapkan terbatas. Dalam seminggu, setiap siswa masuk dua kali. Dalam sehari PTM dilakukan dengan selama tiga jam. ”PTM dilakukan bertahap, harapannya tidak akan ada klaster,” kata Danang.

Di Kulonprogo, sebanyak 20 SMP dipastikan telah mendapat izin untuk menggelar PTMT. Kepala Disdikpora Kulonprogo Arif Prastowo mengatakan, dalam pelaksanaan pembukaan kembali PTMT tersebut pihaknya akan mengerahkan petugas pengawas di tiap sekolah. Arif mengungkapkan, hingga Senin (4/10) Disdikpora Kulonprogo sendiri telah mengeluarkan sebanyak 20 surat izin bagi sekolah untuk menggelar PTM. Sehingga ia meminta agar sekolah yang sudah diberi izin supaya berhati-hati dan berusaha maksimal untuk mencegah potensi penularan Covid-19 di sekolah. “Evaluasi akan kami lakukan setiap dua pekan sekali,” terang Arif disela peninjauan PTMT di SMP N 2 Wates.

Apabila dalam evaluasi tersebut sekolah dianggap baik, lanjut Arif, maka tidak menutup kemungkinan PTM akan berlanjut kepada jenjang di bawahnya. Seperti jenjang SD, TK hingga PAUD. Terkait dengan hal tersebut, Arif menyatakan untuk jenjang SD pihaknya telah melakukan verifikasi sarana prasarana prokes sekolah. Hasilnya, hampir semua SD telah memenuhi syarat dan siap menggelar PTM dalam waktu dekat.”Namun untuk TK dan PAUD kemungkinan masih lama, karena masih banyak yang perlu dipersiapkan,” ujar Arif.

Sementara itu, Kepala SMP N 2 Wates Turismiyati mengatakan, dalam pelaksanaan PTM di sekolahnya pihak sekolah menerapkan protokol kesehatan ketat bagi siswa maupun guru. Sebelum masuk ke area sekolah, siswa serta guru diwajibkan mencuci tangan, di cek suhu tubuhnya, dan duduk di bangku dengan jarak aman.

Jumlah siswa di dalam kelas pun juga dibatasi hanya 50 persen dari total kapasitas. Kemudian untuk siswa yang belum masuk PTM masih mengikuti pembelajaran secara daring.”Kami bagi siswa 50 persen dari total kapasitas di kelas sesuai dengan absen, sementara untuk siswa yang belum masuk hari ini masih mengikuti kegiatan belajar daring di rumah,” terangnya. (inu/mel/pra)

Kulonprogo