RADAR JOGJA- Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, menuturkan, stunting adalah kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan (HPK) yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.

Bayi lahir sudah 23% prevalensi stunting. Kemudian setelah lahir, banyak yang lahirnya normal tapi kemudian jadi stunting hingga angkanya menjadi 27,6%. Artinya dari angka 23% muncul dari kelahiran yang sudah tidak sesuai standar.

Hal lain yang menyebabkan stunting adalah sebanyak 11,7% bayi terlahir dengan gizi kurang yang diukur melalui ukuran panjang tubuh tidak sampai 48 sentimeter dan berat badannya tidak sampai 2,5 kilogram.

“Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya. Penting dipahami, stunting itu pasti bertubuh pendek, sementara yang bertubuh pendek belum tentu stunting,” ujar Hasto Wardoyo usai bertemu langsung dengan keluarga berisiko stunting di Desa Bugel, Panjatan, Kulon Progo, Jumat (24/9).

Tingginya angka stunting di Indonesia juga ditambah dari bayi yang terlahir normal akan tetapi tumbuh dengan kekurangan asupan gizi sehingga menjadi stunting.

Jadi, yang lahir normal pun masih ada yang kemudian jadi stunting karena tidak dapat ASI dengan baik, kemudian asupan makanannya tidak cukup.

Hasto menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk mencegah lahirnya bayi-bayi stunting di dalam keluarga dengan cara menyiapkan betul remaja putri yang akan menikah harus sehat. Ibu-ibu yang akan menambah lagi anaknya harus sehat juga.

“Jangan terlalu muda untuk hamil kurang dari 20 tahun, jangan terlalu tua untuk hamil lebih dari 35 tahun dan terlalu sering kurang dari 3 tahun sudah hamil lagi dan terlalu banyak. Ingat, 2 anak lebih sehat,” jelasnya.

Bupati Kulonprogo, Sutedjo menjelaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo terus berupaya menurunkan angka stunting. Salah satunya dengan cara inovasi di bidang teknologi informasi melalui aplikasi yang bisa digunakan untuk memantau kondisi ibu hamil dan bayinya. “Hasilnya, pada tahun 2020, prevalensi stunting di Kulon Progo ada di angka 11,8 persen,”ucap Sutedjo.

Kepala Deputi Koordinasi Bidang Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Agus Suprapto mengatakan  keberhasilan Program Percepatan Penurunan Angka Stunting akan berhasil jika dilakukan dengan tepat sasaran dan kerja keras, dengan melibatkan dukungan dari semua pihak bersama para mitra yang terkait. Stunting itu bisa diatasi. “Ketika bayi lahir sampai 2 tahun ini masih bisa dilakukan antisipasi dan intervensi supaya tidak menjadi stunting,”terangnya. (sky)

Kulonprogo