RADAR JOGJA – Pemerintah pusat merencanakan aplikasi Peduli Lindungi digunakan sebagai syarat untuk masuk ke ruang publik seperti mal dan destinasi wisata. Sayangnya, untuk destinasi wisata di Kulonprogo masih banyak yang blank spot atau area susah sinyal. Khususnya pada kawasan perbukitan di kabupaten tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo Joko Mursito mengatakan, untuk destinasi wisata yang masuk area susah sinyal mayoritas berada di sisi utara. Dimana, di wilayah tersebut merupakan kawasan dataran tinggi dengan gugusan perbukitan.

Joko mengungkapkan, kondisi tersebut menjadi salah satu kekhawatiran bagi pemerintah maupun pengelola wisata ketika aplikasi Peduli Lindungi menjadi syarat untuk masuk ke destinasi. Sehingga perlu penyiapan matang agar kemudian persyaratan tersebut tidak malah mempersulit wisatawan untuk berkunjung.

“Untuk itu perlu penyiapan dari segala aspek, mulai dari sumber daya manusianya hingga sarana dan prasarana pendukung aplikasi Peduli Lindungi,” terang Joko saat dikonfirmasi, kemarin (3/9).

Lebih dari itu, ia menyatakan bahwa sosialisasi tentang aplikasi Peduli Lindungi juga penting bagi pengelola objek wisata. Sebab penerapan aplikasi tersebut sebagai syarat masuk pengunjung masih menjadi hal baru bagi para pengelola maupun masyarakat.

Sehingga kemudian, pihaknya tentu perlu melakukan pelatihan bagi para petugas pengelola wisata. Agar ketika diterapkan nanti aplikasi Peduli Lindungi bisa berjalan optimal dan tidak membingungkan pengelola wisata maupun wisatawan.

“Petugas di TPR harus diberi pemahaman dulu tentang aplikasi tersebut, agar tidak kebingungan Selain itu, jaringan internet juga harus dipersiapkan untuk mendukung aplikasi tersebut,” katanya.

Terkait dengan kondisi tersebut, salah satu pengelola destinasi wisata Pule Payung, Eko Purwanto membenarkan masalah sinyal merupakan salah satu kendala dalam penggunaan aplikasi Peduli Lindungi. Pria yang juga merupakan humas dari wisata di kapanewon Kokap itu mengatakan bahwa tidak semua provider internet bisa maksimal di kawasan wisatanya.

Hal itu disebabkan karena Pule Payung berada di wilayah dataran tinggi Kulonprogo. Kendati demikian ia tetap mendukung upaya pemerintah untuk menciptakan pariwisata yang aman dari penularan virus. “Karena di Pule Payung susah sinyal, mungkin perlu ada solusi lain yang lebih efektif. Semisal scan barcode kartu vaksin untuk masuk ke wisata,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kulonprogo Rudyatno menyampaikan, saat ini terus berupaya semua wilayah di Kulonprogo bebas dari blank spot. Pihaknya bakal berkoordinasi dengan penyedia layanan internet untuk penyiapan penerapan aplikasi Peduli Lindungi di destinasi wisata. “Kami akan lakukan uji kelayakan terlebih dahulu di sejumlah objek wisata, sehingga penggunaan dan pemanfaatan aplikasi Peduli Lindungi ini bisa maksimal,” jelasnya. (inu/bah)

Kulonprogo