RADAR JOGJA – Udara dingin sering terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dengan berbagai potensi penyakit seiring datangnya fenomena tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kulonprogo Rina Nuryati mengatakan, banyak penyakit yang berpotensi muncul saat cuaca atau udara menjadi dingin. Khususnya penyakit yang berkaitan dengan alergi udara, seperti asma, biduran, bronkitis, serta berbagai macam alergi. “Berbagai potensi penyakit memang sering muncul saat cuaca dingin, terutama terkait dengan penyakit alergi udara,” ujar Rina saat dikonfirmasi, Senin (19/7).

Sebagai upaya pencegahan, Rina mengimbau masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Di antaranya dengan makan makanan bergizi, berolahraga secara teratur serta mengkonsumsi vitamin apabila diperlukan.

Kemudian di malam hari, diharapkan masyarakat juga menggunakan pakaian hangat serta mengurangi aktifitas di luar ruangan. Selain karena masih situasi pandemi Covid-19, adanya udara dingin juga dikhawatirkan dapat membuat imun tubuh menjadi lemah.”Meski melemahnya imun manusia itu multifaktoral dan tidak hanya satu penyebab. Namun udara dingin bisa menjadi salah satunya,” ungkap Rina.

Sebelumnya, Kepala Staklim Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, suhu udara dingin disesebabkan sejumlah faktor. Pertama, adanya pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering ke Asia melewati Indonesia atau disebut dengan Monsoon Dingin Australia. Di DIJ udara dingin sendiri sudah terjadi selama lima hari terakhir.

Suhu udara dingin, lanjut Reni, juga diakibatkan tutupan awan relatif sedikit dan pantulan panas dari bumi yang diterima sinar matahari tidak tertahan oleh awan, tetapi langsung terbuang dan hilang ke angkasa. Kandungan air dalam tanah hampur menipis, kandungan uap air di udara juga rendah, dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara. Suhu udara minimum berkisar 18-23 derajat celcius dan kelembapan udara permukaan minimum 50-58 derajat celcius.

Reni memperkirakan kondisi tersebut berlangsung hingga Agustus. Masyarakat diminta menjaga imunitas tubuh dengan cara mencukupi kebutuhan cairan (menghindari dehidrasi) serta makanan dan minuan hangat. Pada malam hari gunakan pakaian selimut tebal. Suhu pendingin udara ruangan tidak terlalu rendah. Menggunaan krim pelembab kulit, supaya kulit tidak kering. “Potensi peningkatan penyakit pernafasan yang diakibatkan virus dan bakteri. Kulit dan bibir menjadi kering, mimisan. Jika paparan udara dingin terus berlangsung, akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia),” ungkapnya. (inu/pra)

Kulonprogo