RADAR JOGJA- Bulan Ramadan tahun ini membawa berkah tersendiri bagi perajin peci di Padukuhan Lengkong, Kalurahan Donomulyo, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo.  Pasalnya semenjak satu bulan akhir ini permintaan penutup kepala bagi umat muslim itu meningkat pesat.

Didalam ruangan yang berada di pinggir rumahnya, Sarbini terlihat sibuk dengan alat jahitnya. Mata dan tangannya sibuk mengamati satu persatu songkok hasil buatannya. Mayoritas berwarna hitam, namun ada sebagian peci yang memiliki hiasan berwarna-warni di bagian pinggir.

Permintaan peci pada bulan Ramadhan tahun ini, diakui pria berusia, 51, itu memang meningkat pesat. Peningkatannya disebut bisa mencapai 75 persen dari sebelumnya. Hingga pertengahan bulan puasa, bahkan ia mengaku bisa meraup omzet sebesar Rp.10 juta.

Kondisi tersebut berbanding terbalik saat pandemi Covid-19 tahun lalu. Sarbini menceritakan, di tahun 2020 oderan peci miliknya memang sempat terpuruk. Banyak peci buatannya yang tidak laku, padahal sejak jauh-jauh hari dia sudah menyiapkan stok.

“Saat awal pandemi di tahun 2020, orderan peci memang sempat sepi. Saya sudah buat banyak supaya bisa dijual saat itu tapi malah gak laku. Tapi alhamdulilah sekarang beda banget, permintaan peci sudah banyak,” ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Selasa (4/ 5).

Saat ini, Sarbini mengaku dengan dibantu anak dan istrinya dalam sehari dia bisa memproduksi sekitar dua kodi atau 40 buah peci. Dia pun bisa memproduksi peci dengan berbagai motif, mulai dari motif polos, corak bunga, karakter kartun hingga motif khas Kulonprogo yakni geblek renteng.

Orderannya pun tak sebatas hanya seputar wilayah Kulonprogo saja, namun juga dari luar daerah seperti Sleman dan Magelang. Bahkan beberapa kali Sarbini juga menerima pesanan dari luar Jawa, yakni Palembang.

Selain memasarkan peci dari pesanan langsung, dia juga menjual secara online. Seperti menggunakan marketplace dan penawaran melalui sosial media.

Kemudian untuk harga peci buatannya, Sarbini mematok mulai harga mulai dari Rp.25.000 hingga Rp.75.000 per buahnya. Harga peci ditentukan dari bahan dan tingkat kesulitan pembuatan.

“Salah satu yang khas dari produksi kami adalah motif geblek renteng, karena selalu dipesan oleh Bupati Kulonprogo,” katanya.

Terkait dengan peci motif geblek renteng, Sarbini mengaku bahwa dia adalah orang pertama yang membuat motif tersebut. Pembuatan motif geblek renteng itu didasari atas usulan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo pada tahun 2016 silam. Saat itu, dia diminta membuktikan bahwa motif geblek renteng juga bisa diaplikasikan ke produk selain batik.

Pada awalnya, Sarbini sempat ragu terhadap motif geblek renteng karena khawatir sulit dipasarkan. Namun berkat usulan tersebut, kini peci geblek renteng justru menjadi produk khas Kulonprogo yang diminati berbagai kalangan.

“Alhamdulillah motif peci geblek renteng saat ini malah banyak peminatnya, mulai dari kalangan pemerintah sampai masyarakat umum,” katanya.(inu/sky)

Kulonprogo