RADAR JOGJA- Selama simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) bagi siswa sekolah dasar hingga Kamis (29/4). Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo menemukan ada beberapa catatan tentang potensi kerumunan ketika pulang dan masuk sekolah.

Kepala Disdikpora Kulonprogo, Arif Prastowo mengatakan ada sebanyak 55 sekolah dasar yang kini menjalani simulasi. Melalui simulasi tersebut, pihaknya ingin melihat kesiapan tiap sekolah sebelum menggelar sekolah tatap muka.

Seperti melihat kesiapan sarana dan prasarana penunjang protokol kesehatan di sekolah. Serta sistem pembelajaran yang aman dari penularan virus Covid-19 bagi siswa.

“Simulasi ini merupakan inisiatif kami. Kami ingin memastikan kesiapan setiap sekolah sebelum PTM digelar,” ujarnya Rabu (28/4).

Selama dua hari pelaksanaan simulasi (26- 27 April), Arif menyatakan pihaknya menemukan beberapa catatan terkait pelaksanaan sekolah tatap muka di tingkat sekolah dasar. Yakni potensi kerumunan siswa diluar kelas ketika jam masuk dan pulang sekolah.

Untuk itu, menurutnya perlu ada pengaturan khusus terhadap jam berangkat dan pulang bagi siswa. Sehingga para siswa tidak pulang bersamaan dan potensi kerumunan pun bisa dicegah.

“Kalau didalam kelas catatan kami ada di ketersediaan ruang kelas, dimana terdapat sekolah yang siswanya banyak namun kelasnya tidak memadai. Solusinya nanti mungkin jendelanya bisa dibuka atau dimodifikasi lagi jumlah siswa yang masuk,” jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Kulonprogo Istana mendorong agar Disdikpora bisa segera melakukan investarisir kondisi di masing-masing sekolah yang ada di Kulonprogo. Sehingga harapannya pembelajaran tatap muka bisa segera digelar.

Menurutnya, dengan terus dilaksanakannya pembelajaran secara daring dikhawatirkan hal tersebut akan berdampak buruk bagi siswa. Terlebih sampai saat ini juga banyak orang tua siswa yang terbebani dan tidak bisa optimal mendampingi anaknya belajar di rumah.

Namun demikian, apabila pembelajaran secara daring masih harus diteruskan. Istana berharap supaya instansi terkait bisa membuat inovasi agar siswa tetap mendapatkan hak-nya mengenyam pendidikan secara maksimal.

“Disamping simulasi tentu juga harus ada inovasi, mungkin guru itu bisa mobile dalam sekala kecil keliling ke rumah-rumah siswa, atau guru diprioritaskan rapid test. Karena kalau terlalu lama di rumah itu banyak negatifnya dan siswa tidak boleh diliarkan,” ujarnya. (inu/sky)

Kulonprogo