RADAR JOGJA- Sebanyak tujuh desa wisata di wilayah DIJ dan Jateng kini siap menerapkan adaptasi kebiasaan baru di destinasi wisata. Hal itu, karena mereka telah selesai mengikuti rangkaian pelatihan yang digelar oleh Badan Otorita Borobudur (BOB).

Rangkaian pelatihan ditutup dengan kegiatan self declare (deklarasi mandiri) oleh para peserta pada Jumat (9/4). Seremonial kegiatan tersebut digelar di Gerbang Samudra Raksa dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Self declare ini sebagai bentuk komitmen dalam pelaksanaan protokol kesehatan di destinasi wisata,” ujar Direktur Utama BOB ndah Juanita disela kegiatan.

Indah menjelaskan, materi yang diberikan selama pelatihan kepada para peserta adalah tentang dengan kebijakan pemerintah daerah tentang pengelolaan daya tarik wisata pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) serta penerapan CHSE (Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability).

Pelatihan tersebut menyasar tujuh desa wisata di wilayah Jateng-DIJ. Adapun diantaranya Desa Pandanrejo, Desa Sedayu, dan Desa Benowo di Kabupaten Purworejo. Kemudian Desa Ngargoretno serta Desa Ngargosari di Kabupaten Magelang. Serta Desa Gerbosari dan Desa Pagerharjo di Kabupaten Kulon Progo.

Adanya pelatihan tersebut, lanjut Indah, diharapkan dapat memulihkan kembali sektor pariwisata yang sebelumnya lesu karena situasi pandemi. Sehingga roda perekonomian kembali bisa berputar melalui kunjungan wisatawan dengan menerapkan protokol kesehatan.

DalamĀ  program pelatihan dan pendampingan itu pihaknya melakukan pembekalan kepada para peserta. Terkait dengan materi visitor management mulaiĀ  dari carrying capacity dan alur wisatawan. Lalu pemetaan zonasi kunjungan wisatawan, traffic management, hingga simulasi kunjungan wisatawan oleh pengelola destinasi wisata.

“Pesertanya adalah para pelaku wisata yang merupakanperwakilan dari tujuh destinasi wisata, masing-masing destinasi mewakilkan 20 peserta,” jelasnya.

Sementara itu Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB, Bisma Jatmika mengatakan, hasil dari pelatihan tersebut nantinya pengelola destinasi wisata akan memiliki standar pelayanan sesuai protokol kesehatan. Sehingga harapannya kegiatan pariwisata tetap berjalan namun penyebaran virus tetap bisa diantisipasi.

Pihaknya juga akan melakukan pemantauan terhadap desa-desa yang sudah mengikuti pelatihan. Supaya pelaksanaan standar pelayanan pariwisata yang aman bisa benar-benar dijalankan.

“Monitoring dilakukan secara berkala bisa seminggu atau dua minggu sekali,” katanya.

Ketua Tim Verifikator Lembaga Sertifikasi Janadharma Indonesia, Wika Rinawati menyampaikan, ketujuh desa yang telah mengikuti pelatihan sudah memiliki SOP yang memadai. Pengelola juga telah menyiapkan sarana prasarana pendukung pencegahan virus.

Seperti pemasangan fasilitas cuci tangan, penyediaan thermogun, alat pelindung diri dan rambu-rambu penerapan protokol kesehatan. Fasilitas penunjang seperti toilet bersih, tempat parkir khusus dan tempat sampah juga dinilai cukup bagus.

Namun ada beberapa catatan yakni tentang kurangnya sistem pengelolaan sampah yang kurang memadai dan belum adanya penyediaan P3K di destinasi wisata. Menurut Indah, pengelola juga perlu memperbanyak poster terkait dengan pencegahan penularan Covid-19.

“Secara garis besar, berdasarkan hasil verifikasi di tujuh desa wisata ini, semua telah menerapkan SOP daya tarik wisata yang sesuai dengan adaptasi kebiasaan baru,” terangnya. (inu/sky)

Kulonprogo