RADAR JOGJA- Komoditas ikan dinilai penting bagi pertumbuhan, kesehatan dan kecerdasan manusia.  Namun tingkat konsumsi komoditas tersebut di Kabupaten  Kulonprogo belum sesuai harapan.

Apalagi tingginya kasus stunting menjadi keprihatinan bagi pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat.

Meski produksi ikan di Kulonprogo cukup besar, konsumsi masyarakat terhadap ikan di wilayah tersebut ternyata masih rendah. Pemerintah setempat berupaya meningkatkan konsumsi ikan dengan berbagai program.

Bupati Kulonprogo, Sutedjo menerangkan, bahwa tingkat konsumsi ikan masyarakat Kulonprogo di tiap kapanewon baru mencapai 26,49 kilogram  per tahun. Jumlah tersebut jauh dibawah rata-rata tiap kabupaten di DIJ yang mencapai 36,50 kilogram/tahun.

Dengan rendahnya tingkat konsumsi ikan di Kulonprogo ini, Sutedjo khawatir hal tersebut berdampak pada rendahnya pemenuhan gizi masyarakat. Tingginya angka stunting menjadi indikator dari kondisi tersebut.

Menurutnya, ikan dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan gizi masyarakat Kulonprogo. Sebab ikan kaya akan gizi esensial yang bermanfaat bagi kesehatan.

“Melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan kami harapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan arti pentingnya makan ikan bagi pertumbuhan, kesehatan dan kecerdasan  manusia,” katanya, Rabu (7/4).

Sementara  itu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo, Sudarna menyampaikan, rendahnya konsumsi makan ikan  disebabkan  beberapa faktor. Diantaranya, karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi ikan, kemudian faktor sosial dan budaya, serta faktor pendapatan masyarakat.

Meski konsumsi ikan terbilang rendah. Sudarna menyatakan pada sektor produksi perikanan di Kulonprogo terbilang cukup tinggi. Baik dari sisi produksi budidaya maupun produksi penangkapan ikan. Pada tahun 2020 lalu produksi ikan bisa mencapai 18.791,61 ton.

“Namun sayangnya angka konsumsi makan ikan belum sesuai harapan,” ucap Sudarna. (inu/sky)

Kulonprogo