RADAR JOGJA- Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo memasang 500-an spanduk penolakan atas rencana proyek pabrik dan penambangan pasir besi. Aksi perlawanan mereka telah berlangsung 15 tahun.

Spanduk dan bendera PPLP terpasang di sepanjang di Jalan Daendels di Kulonprogo. Spanduk-spanduk itu antara lain berbunyi, ‘Bertani atau Mati, Tolak Tambang Pasir Besi’, ‘Anda Memasuki Zona Anti Tambang’, dan ‘Pasir Besi = Petani Mati’.

Rencana penambangan pasir besi dulu dilakukan oleh PT. Jogja Magasa Iron (JMI) yang merupakan konsorsium antara PT. Jogja magasa Mining (JMM) dengan PT. Indo Mines. Diketahui mereka telah mendirikan pilot project dan sampel pengolahan. Namun belakangan ini rencana pendirian pabrik biji besi di Kulonprogo tidak jelas

Koordinator aksi  Widodo mengatakan,  dasar penolakan tersebut karena kehadiran tambang pasir besi di wilayah pesisir dapat merusak kesuburan tanah dan produktifitas lahan. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak kepada para petani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari menanam dan memanen.

Petani di wilayah pesisir Kulonprogo banyak menghasilkan panen cabai. Cabai dari petani pesisir Kulonprogo banyak dikirim ke Jakarta Medan, Surabaya, dan Bandung. Sebagian lahan juga digunakan untuk budidaya melon, semangka dan aneka jenis sayuran.

“Disini kami sebagai warga sudah sejahtera tanpa ada tambang,”ujarnya, Jumat (2/4).

Aksi penolakan tambang tersebut juga menjadi rangkaian peringatan HUT PPLP ke-19. Peringatan tahun ini digelar lebih sederhana karena warga hanya melakukan doa bersama, tumpengan dan pemasangan spanduk.

“Ada 500 spanduk maupun bendera yang kita pasang dari banaran sampai di perbatasan Kawangwuni. Tuntutan warga hanya satu batalkan tambang pasir besi dan tolak pendirian pabrik pasir besi di Kulonprogo,” katanya. (inu/sky)

Kulonprogo