RADAR JOGJA – Berdiri sejak 2003, Wildlife Rescue Centre (WRC) awalnya bernama Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta (PPSJ). Organisasi nirlaba bidang konservasi satwa dilindungi sempat kolaps medio 2007. Hingga akhirnya bangkit kembali 2010 dengan nama baru, WRC. Tentunya dibawah naungan Yayasan Konservasi Ala. Yogyakarta (YKAY).

Manajer Konservasi WRC Jogjakarta Reza Dwi Kurniawan menjelaskan  WRC tak memiliki donatur tetap. Seluruhnya mengandalkan program relawan dan perseorangan. Alhasil pasang surut pemenuhan biaya operasional masih sangat bisa terjadi.

“Memang yang kami sayangkan dari WRC ini tidak funding tetap. Hanya mengandalkan program relawan dan perseorangan,ketika pandemi datang ya habis semua tidak ada income masuk,” jelasnya ditemui di kantor WRC, Kecamatan Pengasihan Kulonprogo, Senin (1/2).

Upaya mencari donatur tetap telah ditempuh. Sayangnya tidak semua orang maupun organisasi memenuhi syarat. Seperti tak terikat kepentingan politik atau jejak rekam koorporasi.

Pertimbangan-pertimbangan ini menjadi acuan utama WRC. Tujuannya agar WRC dapat berjalan dengan indipendensi tanpa kepentingan apapun,terlebih fokus utama adalah penyelematan satwa liar yang dilindungi.

“Kami sangat terbuka terhadap funding, yang penting tidak ada kepentingan politik dan kontradiksi. Mengutamakan perusahaan-perusahaan yang tidak merusak lingkungan,” katanya.

Reza menambahkan,saat ini WRC merawat 152 satwa liar yang dilindungi terdiri dari jenis primata,  reptil dan beragam jenis burung. Seluruhnya merupakan sitaan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta. Adapula titipan dari beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pasca pandemi Covid-19, WRC menjalin kerjasama dengan salah satu pasar swalayan besar di Jogjakarta. Berupa pengambilan buah dan sayuran tak layak jual,yang kemudian disortir dan menjadi pakan bagi satwa di WRC.

“Dulu sebelum pandemi juga beli variasi buah seperti nanas, semangka dan pepaya. Tetap butuh variasi karena primata itu bisa bosan kalau monoton. Kalau salah kasih, satwa juga bisa mencret,” tambahnya. (dwi/sky)

Kulonprogo